Peneliti FMIPA UI Rekomendasikan Eradikasi Ikan Alien di Telaga Saat demi Lindungi Hulu Ciliwung

Tim peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) merekomendasikan langkah eradikasi ikan alien di Telaga Saat, Cisarua, Kabupaten Bogor, guna menjaga keseimbangan ekosistem hulu Sungai Ciliwung dan melindungi keberadaan ikan asli

Sabtu, 18 Juli 2026 - 21:00 WIB
Peneliti FMIPA UI Rekomendasikan Eradikasi Ikan Alien di Telaga Saat demi Lindungi Hulu Ciliwung
Ikan Alien di Telaga Saat, puncak Bogor. Ikan ini bisa melindungi buku sungai Ciliwung. (Foto: Humas Kominfo Pemkab Bogor for hallonews)

HALLONEWS.ID – Tim peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) merekomendasikan langkah eradikasi ikan alien di Telaga Saat, Cisarua, Kabupaten Bogor, guna menjaga keseimbangan ekosistem hulu Sungai Ciliwung dan melindungi keberadaan ikan asli.

Rekomendasi tersebut disampaikan setelah tim melakukan survei pasca-kegiatan pelepasliaran ikan dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni 2026.

Hasil kajian menunjukkan sejumlah spesies ikan asing mendominasi perairan Telaga Saat dan berpotensi mengancam kelestarian spesies lokal.

Kajian dilakukan oleh Dr. Noer Sarifah Ainy, Luthfiralda Sjahfirdi, Mufti Patria Petala, Harinaldi, Yasman, Riani Widiarti, dan Hirmas Fuady Putra.

Dr. Noer Sarifah Ainy menjelaskan bahwa pelepasliaran ikan untuk meningkatkan stok ikan konsumsi memang memiliki tujuan yang baik.

Namun, penggunaan spesies asing di perairan umum dapat menimbulkan dampak ekologis yang serius.

“Ketika ikan alien masuk ke perairan umum, mereka dapat memanfaatkan sumber pakan dan ruang hidup yang sama dengan ikan asli,” ujar Dr. Noer dikutip wartawan media ini Sabtu (18/7/2026).

Berdasarkan dokumentasi foto yang beredar di media massa, tim peneliti mengidentifikasi ikan belida yang dipegang Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor saat kegiatan pelepasliaran sebagai Chitala lopis atau Belida Bangkok, yang dikategorikan sebagai spesies asing.

Menurut Dr. Noer, Belida Bangkok memiliki perbedaan morfologi dengan Belida Jawa yang merupakan spesies asli Indonesia.

Belida Bangkok memiliki pola bulatan di dekat sirip punggung hingga sirip ekor, sedangkan Belida Jawa tidak memiliki corak tersebut.

Ia menegaskan, spesies asing seperti Chitala lopis tidak seharusnya dilepasliarkan ke perairan tawar Indonesia karena berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem, menggeser populasi ikan asli, serta memengaruhi rantai makanan di habitat alami.

Selain Belida Bangkok, tim peneliti juga merekomendasikan pengendalian terhadap sejumlah spesies ikan asing lain yang telah ditemukan di Telaga Saat, yakni platy pedang, ikan mas, ikan cere, guppy, sapu-sapu, dan nila.

Sebagai langkah jangka panjang, FMIPA UI merekomendasikan Pemerintah Kabupaten Bogor melakukan pengelolaan populasi melalui eradikasi ikan alien, diikuti program restocking menggunakan ikan asli Indonesia.

Tim peneliti juga mengusulkan agar Telaga Saat ditetapkan sebagai kawasan konservasi ikan lokal berbasis daerah aliran sungai (DAS) pertama di wilayah Jabodetabek, sehingga dapat menjadi model pengelolaan ekosistem perairan yang berkelanjutan sekaligus menjaga keanekaragaman hayati di hulu Sungai Ciliwung. (opy)