Perang Iran Makin Mematikan: 1.045 Orang Tewas, 100 Ribu Warga Teheran Mengungsi
Serangan udara AS dan Israel yang terus menggempur Iran menyebabkan korban tewas melampaui 1.000 orang. Konflik yang memasuki hari kelima juga memicu gelombang pengungsian besar dari Teheran.

HALLONEWS.ID – Jumlah korban tewas akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel di Iran terus meningkat tajam. Hingga Kamis (5/3/2026), laporan media pemerintah Iran menyebut korban jiwa telah mencapai 1.045 orang sejak operasi militer dimulai beberapa hari sebelumnya.
Serangan udara yang berlangsung hampir tanpa jeda itu juga memicu gelombang pengungsian besar dari ibu kota Teheran, dengan sekitar 100.000 warga dilaporkan meninggalkan kota demi mencari tempat yang lebih aman.
Seperti dikutip dari Al Jazeera, konflik yang memasuki hari kelima ini menimbulkan dampak kemanusiaan yang luas. Banyak korban berasal dari kalangan sipil yang tinggal di kota-kota yang menjadi sasaran serangan udara.
Selain korban tewas, ribuan orang lainnya mengalami luka-luka. Laporan dari fasilitas kesehatan menyebutkan lebih dari 6.000 orang terluka, termasuk ratusan anak-anak dan remaja.
Sekitar 300 anak dan remaja harus menjalani perawatan di rumah sakit setelah terkena dampak serangan di berbagai wilayah Iran.
Serangan udara dilaporkan terjadi di sejumlah kota besar, termasuk Teheran, Qom, dan wilayah Provinsi Isfahan, serta beberapa kawasan di Iran bagian barat.
Serangan Meluas ke Berbagai Wilayah
Serangan udara Israel menargetkan sejumlah fasilitas keamanan dan paramiliter di Iran.
Militer Israel menyatakan bahwa operasi mereka menyasar infrastruktur yang terkait dengan Basij, kelompok paramiliter yang berada di bawah struktur Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Selain fasilitas keamanan, beberapa serangan juga dilaporkan merusak kawasan permukiman, sehingga meningkatkan jumlah korban dari kalangan sipil.
Pengungsian Massal dari Teheran
Situasi keamanan yang terus memburuk memicu eksodus warga dari ibu kota Iran.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan sekitar 100.000 warga telah meninggalkan Teheran antara Sabtu (28/2/2026) hingga Minggu (1/3/2026).
Banyak keluarga memilih meninggalkan kota setelah serangkaian ledakan dan serangan udara mengguncang berbagai wilayah ibu kota.
Arus pengungsian ini menjadi salah satu dampak kemanusiaan terbesar sejak konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Fasilitas Nuklir Ikut Terdampak
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga melaporkan adanya kerusakan pada beberapa bangunan di sekitar fasilitas nuklir Isfahan.
Namun badan tersebut menegaskan bahwa fasilitas yang menyimpan material nuklir tidak mengalami kerusakan serius.
IAEA juga memastikan tidak ada indikasi kebocoran radiasi dari lokasi tersebut.
Iran Balas Serangan
Sebagai respons atas serangan tersebut, Iran meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke arah Israel dan beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Sebagian besar proyektil berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara, namun beberapa di antaranya tetap menghantam target militer dan infrastruktur sipil.
Pemakaman Khamenei Ditunda
Di tengah situasi perang yang masih berlangsung, pemerintah Iran juga menunda upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Khamenei dilaporkan tewas dalam gelombang awal serangan udara pada Sabtu (1 Maret 2026).
Penundaan dilakukan karena alasan keamanan dan logistik, mengingat potensi ancaman serangan lanjutan saat prosesi pemakaman berlangsung.
Perebutan Kepemimpinan Iran
Sementara itu, elite politik dan ulama Iran tengah bergerak cepat untuk menentukan pemimpin tertinggi baru negara tersebut.
Ayatollah Ahmad Khatami, tokoh senior dalam struktur keagamaan Iran, menyatakan proses pemilihan pengganti hampir selesai.
“Pemimpin Tertinggi akan segera ditentukan. Kita hampir mencapai kesimpulan, namun negara saat ini berada dalam situasi perang,” ujarnya dalam siaran televisi pemerintah.
Konflik Berpotensi Meluas
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa konflik dengan Iran bisa berlangsung selama beberapa minggu.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengecam keras keputusan Washington yang dinilai telah menghancurkan jalur diplomasi.
Di tengah meningkatnya ketegangan regional, para analis memperingatkan bahwa konflik ini berpotensi memicu krisis kemanusiaan yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. (ren)
