Perang Iran Memanas! Trump Minta Negara Besar Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz
Konflik Iran dengan AS dan Israel kian memanas. Donald Trump meminta negara-negara besar mengirim kapal perang untuk menjaga Selat Hormuz yang dilalui 20 persen pasokan energi dunia.

HALLONEWS.ID – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendesak sejumlah negara besar untuk membantu menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang kini terganggu akibat perang dengan Iran.
Seruan tersebut disampaikan Trump pada Sabtu (14/3/2026), dua pekan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran yang memicu konflik besar di kawasan Teluk.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia karena sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global melewati perairan tersebut.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump mengatakan banyak negara akan bergabung dengan Amerika Serikat untuk menjaga jalur pelayaran itu tetap terbuka.
Ia menyebut berharap negara-negara seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris ikut mengirim kapal perang ke kawasan tersebut.
Serangan Meluas di Timur Tengah
Konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026 telah meluas ke berbagai wilayah Timur Tengah.
Serangan terbaru dilaporkan menghantam Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad menggunakan pesawat tak berawak. Fasilitas energi utama di United Arab Emirates (UAE) juga menjadi sasaran serangan, memicu kepulan asap besar di kawasan pelabuhan Fujairah.
Militer Iran sebelumnya memperingatkan warga sipil UEA untuk menjauhi area pelabuhan sebelum serangan terjadi.
Sementara itu, konsulat Uni Emirat Arab di wilayah Kurdistan Irak juga dilaporkan menjadi target serangan untuk kedua kalinya dalam sepekan.
Harga Minyak Melonjak
Konflik yang semakin meluas tersebut mengguncang pasar energi global.
Harga minyak dunia dilaporkan melonjak hingga 40 persen setelah Iran menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz serta menyerang sejumlah fasilitas energi di negara-negara Teluk.
Pasukan Amerika Serikat juga menyerang Pulau Kharg pada Jumat (13/3/2026), lokasi yang menjadi pusat ekspor hampir seluruh minyak Iran.
Trump menyatakan serangan tersebut menghancurkan berbagai target militer, meskipun fasilitas energi di pulau itu tidak diserang.
Iran Tetap Melawan
Meski menghadapi kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel, Iran menunjukkan tekad untuk terus melanjutkan perang.
Ledakan terdengar di Jerusalem setelah militer Israel mendeteksi rudal yang diluncurkan dari Iran pada Sabtu.
Di Qatar, otoritas setempat mengevakuasi pusat kota setelah dua rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.
Kelompok Palestina Hamas bahkan mendesak Iran untuk tidak menyerang negara-negara Teluk yang selama ini memberikan dukungan bagi perjuangan Palestina.
Korban dan Pengungsi Terus Bertambah
Serangan udara besar-besaran Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran juga menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Kementerian Kesehatan Iran menyebut lebih dari 1.200 orang tewas, sementara badan pengungsi PBB memperkirakan sekitar 3,2 juta orang telah mengungsi akibat konflik tersebut.
Militer Amerika Serikat dan Israel disebut telah menghantam lebih dari 15.000 target di Iran sejak perang dimulai.
Konflik juga meluas ke Lebanon setelah kelompok bersenjata Hezbollah menyerang Israel sebagai respons atas kematian pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei.
Serangan balasan Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya 826 orang di Lebanon dan memicu pengungsian massal.
Dalam kunjungannya ke Beirut, Sekretaris Jenderal United Nations, António Guterres, menegaskan bahwa jalur diplomasi masih terbuka untuk mengakhiri konflik tersebut. (ren)
