Presiden Iran Tolak Ultimatum Trump: “Penyerahan Tanpa Syarat Itu Mimpi”

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menolak tuntutan Donald Trump agar Iran menyerah tanpa syarat. Di tengah perang yang memasuki hari kedelapan, ketegangan Iran–AS–Israel semakin memanas.

Sabtu, 7 Maret 2026 - 17:28 WIB
Presiden Iran Tolak Ultimatum Trump: “Penyerahan Tanpa Syarat Itu Mimpi”
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato yang menolak tuntutan penyerahan tanpa syarat dari Presiden AS Donald Trump di tengah konflik yang semakin memanas. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.ID – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menolak keras tuntutan Donald Trump yang meminta Iran menyerah tanpa syarat di tengah konflik yang terus memanas di Timur Tengah.

Dalam pidato yang telah direkam sebelumnya dan disiarkan oleh televisi pemerintah Iran pada Sabtu (7/3/2026), Pezeshkian menyebut tuntutan tersebut sebagai sesuatu yang tidak realistis.

“Tuntutan penyerahan tanpa syarat adalah mimpi yang seharusnya mereka bawa sampai ke liang kubur,” kata Pezeshkian.

Pernyataan itu merupakan tanggapan langsung terhadap pernyataan Trump di platform Truth Social yang menegaskan bahwa Washington tidak akan melakukan negosiasi dengan Iran tanpa penyerahan total.

“Tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali PENYERAHAN TANPA SYARAT!” tulis Trump dalam unggahannya.

Iran Minta Maaf kepada Negara Tetangga

Dalam pidato yang sama, Pezeshkian juga menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga yang sebelumnya menjadi sasaran serangan Iran.

Menurutnya, serangan tersebut terjadi akibat miskomunikasi di dalam jajaran militer.

“Saya harus meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang diserang oleh Iran, atas nama saya sendiri,” ujar Pezeshkian.

Ia mengatakan dewan kepemimpinan sementara yang kini memimpin Iran telah menyepakati penghentian serangan terhadap negara tetangga kecuali jika Iran terlebih dahulu diserang.

“Mulai sekarang mereka tidak boleh menyerang negara-negara tetangga atau menembakkan rudal ke arah mereka, kecuali jika kita diserang oleh negara-negara tersebut. Saya pikir kita harus menyelesaikan masalah ini melalui diplomasi,” katanya.

Permintaan maaf tersebut muncul setelah laporan serangan yang terjadi pada Sabtu pagi (7/3/2026) di beberapa negara Teluk, termasuk Bahrain, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Konflik Masuk Hari Kedelapan

Perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini telah memasuki hari kedelapan pada Sabtu (7/3/2026).

Sejumlah perkembangan penting terjadi dalam beberapa hari terakhir, di antaranya ledakan yang kembali mengguncang Teheran serta serangan balasan Iran berupa peluncuran rudal ke Israel dan sejumlah negara di kawasan Teluk.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut operasi militer terbaru sebagai salah satu serangan terbesar dalam konflik tersebut.

“Kita akan memberikan kerusakan paling besar pada peluncur rudal Iran dan pabrik yang memproduksi rudal tersebut,” kata Bessent kepada media pada Jumat (6/3/2026).

Ia menambahkan bahwa serangan tersebut bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran secara signifikan.

“Kampanye kami sangat luar biasa dan kami secara substansial telah merendahkan kemampuan mereka,” ujarnya.

Pesawat Pembom AS Tiba di Inggris

Di tengah meningkatnya eskalasi konflik, sebuah pesawat pembom strategis B-1 Lancer milik Angkatan Udara Amerika Serikat mendarat di pangkalan RAF Fairford, Inggris, pada Jumat (6/3/2026).

Pesawat yang dijuluki “The Bone” tersebut mampu membawa hingga 24 rudal jelajah serta puluhan ton persenjataan.

Kepala Staf Pertahanan Inggris Richard Knighton mengatakan pesawat tersebut kemungkinan akan digunakan dalam operasi militer dalam waktu dekat.

“Peluncuran pesawat pembom ini diperkirakan akan terjadi dalam beberapa hari ke depan,” ujar Knighton.

Ancaman Pengerahan Pasukan Darat

Sementara itu, laporan dari NBC News menyebut Trump secara pribadi juga mempertimbangkan kemungkinan pengerahan pasukan darat Amerika Serikat ke Iran.

Namun rencana tersebut tidak mengarah pada invasi besar-besaran, melainkan kemungkinan pengiriman pasukan dalam jumlah terbatas untuk tujuan strategis tertentu.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan negaranya tidak gentar menghadapi kemungkinan invasi.

“Kami menunggu mereka. Kami yakin bahwa kami dapat menghadapi mereka, dan itu akan menjadi bencana besar bagi mereka,” kata Araghchi dalam wawancara pada Kamis (5/3/2026).

Konflik yang terus meningkat ini memicu kekhawatiran internasional karena berpotensi memicu perang yang lebih luas di kawasan Timur Tengah serta berdampak pada stabilitas ekonomi dan energi global. (ren)