Trump Beri Ultimatum Iran, Israel Gempur Beirut! Timur Tengah Kian Membara
Ketegangan Timur Tengah kembali memanas setelah Donald Trump mengancam Iran terkait Selat Hormuz, sementara Israel melancarkan serangan besar ke Beirut yang dikuasai Hizbullah.

HALLONEWS.ID – Konflik di Timur Tengah kembali memasuki fase berbahaya. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan peringatan keras kepada Iran terkait situasi di Selat Hormuz, sementara Israel memperluas operasi militernya ke wilayah Lebanon dengan menggempur kawasan selatan Beirut yang menjadi basis kelompok Hizbullah.
Dalam perkembangan terbaru, Trump disebut tengah mempertimbangkan keputusan final terkait langkah Amerika Serikat terhadap Iran. Ia menegaskan bahwa Washington tidak akan membiarkan jalur strategis Selat Hormuz berada dalam kondisi yang mengancam keamanan perdagangan internasional.
Kawasan tersebut menjadi salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia.
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat aksi saling serang dalam beberapa pekan terakhir.
Washington menyebut serangan yang dilakukan militernya sebagai tindakan pertahanan diri, sedangkan Iran menuding Amerika telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya sempat dibahas kedua negara.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memerintahkan serangan terhadap wilayah Dahiyeh di Beirut Selatan.
Kawasan tersebut dikenal sebagai basis kuat kelompok Hezbollah yang selama ini mendapat dukungan dari Iran. Israel menilai Hezbollah terus melakukan pelanggaran gencatan senjata dan melancarkan serangan ke wilayahnya.
Operasi militer Israel bahkan dilaporkan semakin meluas hingga wilayah selatan Lebanon. Langkah tersebut memicu kecaman dari sejumlah negara dan meningkatkan kekhawatiran akan pecahnya konflik regional yang lebih besar.
Sementara itu, upaya diplomasi yang dimediasi Amerika Serikat masih berjalan namun belum menunjukkan hasil signifikan.
Iran disebut menjadikan penghentian serangan Israel ke Lebanon sebagai salah satu syarat penting dalam pembahasan kesepakatan yang lebih luas dengan Washington.
Dampak konflik juga mulai terasa di pasar global. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3 persen karena investor khawatir ketegangan di Selat Hormuz dapat mengganggu distribusi energi internasional. Sejumlah analis menilai risiko terhadap pasokan minyak dunia masih tinggi selama konflik belum mereda.
Dengan situasi yang terus berkembang, dunia kini menanti apakah jalur diplomasi mampu meredakan ketegangan atau justru Timur Tengah akan kembali terseret ke konflik yang lebih luas.(wib)
