Trump Klaim Iran Hampir Kehabisan Target: “Perang Ini Bisa Saya Akhiri Kapan Saja”

Presiden AS Donald Trump mengklaim militer Amerika telah menghantam lebih dari 5.500 target di Iran. Ia mengatakan hampir tidak ada lagi target tersisa dan perang bisa segera berakhir.

Rabu, 11 Maret 2026 - 22:22 WIB
Trump Klaim Iran Hampir Kehabisan Target: “Perang Ini Bisa Saya Akhiri Kapan Saja”
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada wartawan mengenai perkembangan perang melawan Iran dalam konferensi pers di Florida. Foto: Times of Israel for Hallonews.

HALLONEWS.ID – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim operasi militer terhadap Iran telah mencapai titik hampir selesai setelah ribuan target dihantam sejak awal konflik.

Dalam wawancara dengan media Amerika Axios, Trump mengatakan hampir tidak ada lagi sasaran militer yang tersisa di Iran.

“Praktis tidak ada lagi yang bisa dijadikan target. Kapan pun saya ingin ini berakhir, ini akan berakhir,” ujar Trump dalam pernyataannya yang dipublikasikan Rabu, 11 Maret 2026.

Meski demikian, Trump juga mengakui dalam beberapa hari terakhir bahwa pesan pemerintahannya mengenai akhir perang masih berubah-ubah.

Komando militer Amerika menyebut operasi udara dan laut terhadap Iran berlangsung sangat intensif sejak konflik dimulai pada 28 Februari 2026.

Kepala US Central Command, Laksamana Brad Cooper, mengatakan pasukan AS telah menyerang lebih dari 5.500 target militer di Iran.

Serangan tersebut mencakup berbagai fasilitas strategis, termasuk instalasi rudal balistik, fasilitas produksi drone, pangkalan militer, dan kapal perang Angkatan Laut Iran.

“Kekuatan tempur AS meningkat, sementara kemampuan tempur Iran terus menurun,” kata Cooper dalam pernyataan video yang dirilis Selasa, 10 Maret 2026.

Ia juga menyebut bahwa serangan rudal dan drone Iran menurun drastis sejak hari pertama operasi militer.

Cooper menambahkan bahwa militer AS juga berhasil menghancurkan kapal perang kelas Soleimani terakhir milik Angkatan Laut Iran.

Dengan hancurnya kapal tersebut, seluruh kelas kapal perang itu disebut tidak lagi beroperasi dalam pertempuran.

Selain itu, pesawat pembom berat Amerika juga menghantam fasilitas produksi rudal balistik utama Iran pada malam sebelumnya.

“Setiap hari kami menargetkan sistem rudal balistik dan drone Iran dengan serangan presisi,” kata Cooper.

Trump Buka Peluang Eskalasi Baru

Meski optimistis perang akan segera berakhir, Trump tetap memperingatkan Iran agar tidak mengganggu pasokan minyak global.

Dalam konferensi pers di Florida pada Senin, 9 Maret 2026, Trump mengancam akan meningkatkan intensitas serangan jika Iran menutup jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

“Jika Iran menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam dua puluh kali lebih keras daripada yang telah mereka alami,” kata Trump.

Ia juga menyatakan beberapa target paling penting di Iran masih sengaja ditunda untuk diserang jika konflik meningkat.

Ancaman tersebut langsung dibalas oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Seorang juru bicara IRGC menegaskan bahwa Iran yang akan menentukan kapan perang berakhir, bukan Amerika Serikat.

“Iran tidak akan membiarkan satu liter minyak pun keluar dari kawasan ini jika agresi terhadap negara kami terus berlanjut,” kata juru bicara tersebut.

Dampak Global

Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mengguncang pasar energi dunia.

Harga minyak sempat melonjak hingga hampir 120 dolar per barel, tertinggi sejak 2022, sebelum kembali turun mendekati 90 dolar per barel setelah muncul harapan bahwa konflik mungkin segera mereda.

Namun di tengah klaim kemenangan dari Washington dan ancaman balasan dari Teheran, masa depan perang di Timur Tengah masih belum sepenuhnya pasti.

Trump sendiri mengakui bahwa meskipun Amerika telah “menang dalam banyak hal”, perang belum benar-benar selesai.

“Kita sudah menang dalam banyak hal,” katanya, “tetapi kita belum menang cukup banyak.” (ren)