Trump Ultimatum Iran 48 Jam Buka Selat Hormuz, Ancam Serang Infrastruktur Energi

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ultimatum kepada Iran agar membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam atau menghadapi serangan terhadap infrastruktur energi Iran.

Minggu, 22 Maret 2026 - 9:38 WIB
Trump Ultimatum Iran 48 Jam Buka Selat Hormuz, Ancam Serang Infrastruktur Energi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ultimatum kepada Iran terkait pembukaan Selat Hormuz. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.ID — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan ultimatum kepada Iran agar membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam atau menghadapi serangan militer dari Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui unggahan di platform Truth Social pada Sabtu, 21 Maret 2026 waktu setempat.

Trump menyatakan bahwa jika Iran tidak sepenuhnya membuka Selat Hormuz tanpa ancaman dalam waktu 48 jam, maka Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan fasilitas pembangkit listrik Iran, dimulai dari yang terbesar.

Ultimatum tersebut muncul sehari setelah Trump sebelumnya menyampaikan pernyataan terkait kemungkinan mengakhiri perang. Namun dalam pernyataan terbarunya, Trump justru menegaskan sikap yang lebih keras terhadap Iran.

Ia juga menanggapi laporan media Amerika yang menyebut operasi militer AS tidak mencapai tujuan. Trump menolak analisis tersebut dan mengklaim bahwa Amerika Serikat telah mencapai target operasi militer lebih cepat dari yang direncanakan.

Menurut Trump, kepemimpinan Iran telah melemah, sementara kekuatan angkatan laut dan angkatan udara Iran disebutnya telah mengalami kerusakan besar serta pertahanan negara itu dinilai tidak lagi kuat.

Di sisi lain, ketegangan meningkat setelah ancaman Iran terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz berdampak pada terganggunya jalur pelayaran internasional dan memicu kenaikan harga minyak dunia.

Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menjadi jalur pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dunia serta gas alam cair global, sehingga setiap konflik di wilayah tersebut dapat berdampak besar terhadap ekonomi global.

Media Iran melaporkan bahwa Satuan Tugas Gabungan Angkatan Bersenjata Iran menyatakan akan melakukan serangan balasan jika infrastruktur energi Iran diserang. Mereka menyebut seluruh infrastruktur energi milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah dapat menjadi target serangan balasan.

Situasi ini membuat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat dan berpotensi memicu konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. (ren)