Tuduh Iran Bangun Nuklir dan Rudal Jarak Jauh Jadi Pemicu Serangan AS–Israel ke Teheran

Donald Trump menuduh Iran membangun kembali program nuklir dan mengembangkan rudal jarak jauh. Tuduhan itu menjadi pemicu serangan militer AS dan Israel ke Teheran.

Sabtu, 28 Februari 2026 - 15:32 WIB
Tuduh Iran Bangun Nuklir dan Rudal Jarak Jauh Jadi Pemicu Serangan AS–Israel ke Teheran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pernyataan resmi terkait operasi militer terhadap Iran dalam pidato yang disiarkan dari Gedung Putih. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.ID — Tuduhan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Iran kembali membangun program nuklir dan mengembangkan rudal jarak jauh menjadi titik balik eskalasi militer di Timur Tengah.

Pernyataan tersebut diikuti operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menyasar sejumlah titik di Teheran pada Sabtu (28/2/2026) pagi.

Trump menyebut militer AS telah memulai “operasi tempur besar-besaran” dengan tujuan “menghilangkan ancaman nyata dari rezim Iran” terhadap rakyat Amerika dan sekutunya.

Ia menuduh Teheran tidak hanya melanjutkan pengayaan uranium, tetapi juga mengembangkan sistem rudal jarak jauh yang berpotensi menjangkau target di luar kawasan Timur Tengah, termasuk kepentingan AS.

Serangan ke Teheran dan Status Darurat

Menteri Pertahanan Israel menyatakan serangan tersebut sebagai langkah pencegahan untuk “menghilangkan ancaman.”

Laporan awal menyebut ledakan terjadi di sejumlah wilayah Teheran, termasuk area dekat kompleks pemerintahan. Media Iran mengakui adanya ledakan tanpa merinci sasaran.

Sebagai respons, Iran menutup wilayah udaranya, begitu pula Israel. Beberapa negara kawasan seperti Irak turut menutup ruang udara sebagai langkah antisipatif.

Kedutaan Besar AS di beberapa negara Teluk juga menginstruksikan staf untuk berlindung di tempat, menunjukkan kekhawatiran akan potensi balasan.

Tuduhan Nuklir dan Rudal Jadi Inti Konflik

Trump menegaskan bahwa Iran sedang membangun kembali kapabilitas nuklirnya serta mengembangkan rudal jarak jauh yang dinilai bisa mengubah keseimbangan keamanan regional.

Namun, Teheran membantah tuduhan tersebut dan menyatakan program nuklirnya bersifat damai serta untuk kebutuhan energi sipil.

Isu ini sebelumnya menjadi pokok negosiasi antara Washington dan Teheran. Ketidaksepakatan soal pembatasan pengayaan uranium dan pengembangan rudal menyebabkan pembicaraan mandek.

Ancaman Balasan dan Risiko Global

Seorang pejabat Iran yang dikutip media internasional menyatakan bahwa respons Teheran bisa bersifat “menghancurkan.”

Iran memiliki persediaan rudal balistik dan drone dalam jumlah besar. Selain Israel, pangkalan militer AS di kawasan juga berpotensi menjadi target.

Eskalasi ini berisiko mengguncang stabilitas kawasan, termasuk jalur strategis seperti Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.

Konflik ini kini tidak lagi sekadar persoalan diplomasi nuklir, tetapi berpotensi menjadi konfrontasi militer terbuka dengan dampak global. (ren)