Uang Palsu Kian Langka, BI Klaim Rupiah RI Sulit Dipalsukan dan Diakui Dunia

Bank Indonesia mencatat peredaran uang palsu turun drastis hingga mendekati 1 ppm. Rupiah emisi 2022 juga diakui dunia sebagai salah satu uang paling aman.

Kamis, 14 Mei 2026 - 10:00 WIB
Uang Palsu Kian Langka, BI Klaim Rupiah RI Sulit Dipalsukan dan Diakui Dunia
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P Gozali menjelaskan, rasio 1 ppm berarti hanya terdapat satu lembar uang palsu di antara satu juta lembar uang rupiah yang beredar. Foto: BI for Hallonews

HALLONEWS.ID — Peredaran uang palsu di Indonesia terus menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Bank Indonesia (BI) mencatat rasio uang palsu yang beredar kini mendekati 1 piece per million (ppm), jauh lebih rendah dibanding sebelumnya yang berada di kisaran 5 ppm.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P Gozali menjelaskan, rasio 1 ppm berarti hanya terdapat satu lembar uang palsu di antara satu juta lembar uang rupiah yang beredar di masyarakat.

Menurut Ricky, capaian tersebut merupakan hasil penguatan teknologi pengamanan pada uang rupiah yang semakin canggih, sehingga mudah dikenali masyarakat namun sulit dipalsukan.

“Ini luar biasa. Hal tersebut tidak lepas dari sinergi yang erat serta penguatan dari sisi teknologi sehingga uang rupiah mudah dikenali dan sulit dipalsukan,” ujar Ricky di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

BI terus meningkatkan kualitas rupiah, mulai dari penggunaan bahan baku, teknologi pencetakan, hingga penambahan fitur keamanan modern pada setiap pecahan uang.

Langkah tersebut dilakukan untuk mempermudah masyarakat mengenali keaslian uang sekaligus mempersempit ruang gerak pelaku pemalsuan.

Kualitas rupiah Indonesia juga mendapat pengakuan internasional. Uang pecahan Rp50.000 tahun emisi 2022 sebelumnya meraih penghargaan sebagai seri uang terbaik dalam ajang IACA Currency Award 2023.

Tak hanya itu, pada November 2024, uang pecahan Rp50.000 emisi 2022 juga menempati posisi kedua dunia sebagai uang paling aman dan sulit dipalsukan berkat 17 unsur pengamanan yang disematkan.

“Alhamdulillah, peningkatan kualitas uang rupiah ini dilakukan dan diakui dunia,” kata Ricky.

Berdasarkan hasil penelitian BI, uang palsu yang saat ini beredar umumnya memiliki kualitas rendah sehingga relatif mudah dikenali masyarakat menggunakan metode 3D, yakni dilihat, diraba, dan diterawang.

Selain penguatan teknologi, BI juga menilai peran masyarakat sangat penting dalam upaya pemberantasan uang palsu. Karena itu, bank sentral terus menggencarkan kampanye cinta, paham, dan bangga rupiah kepada publik.

BI juga mengimbau masyarakat menjaga kondisi uang rupiah melalui prinsip “5 Jangan”, yakni jangan dilipat, jangan dicoret, jangan distaples, jangan diremas, dan jangan dibasahi.

“Kami mengimbau masyarakat untuk senantiasa merawat uang rupiah dengan baik agar tetap mudah dikenali keasliannya,” ujar Ricky.

Dalam kesempatan tersebut, BI turut mengapresiasi sinergi berbagai lembaga yang terlibat dalam pemberantasan uang palsu, termasuk Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu, Badan Intelijen Negara, Kementerian Keuangan RI, Kejaksaan Agung RI, Kepolisian Negara RI, Mahkamah Agung RI, serta jajaran pengadilan negeri di seluruh Indonesia. (agn)