Uni Eropa Setujui Kerangka Perjanjian Dagang dengan AS di Tengah Ketegangan Soal Greenland
Parlemen Eropa menyetujui kerangka perjanjian perdagangan baru dengan AS meski hubungan kedua pihak tegang akibat isu Greenland dan kebijakan tarif Donald Trump.

HALLONEWS.ID-Parlemen Eropa akhirnya menyetujui syarat penerapan perjanjian perdagangan Uni Eropa–Amerika Serikat yang sempat tertunda akibat kontroversi geopolitik dan ancaman tarif baru dari Washington, pada Selasa (10/2/2026) waktu setempat. Kesepakatan itu membuka jalan bagi tahap negosiasi akhir antara Uni Eropa dan negara-negara anggotanya untuk menyusun teks final perjanjian dagang transatlantik.
Perjanjian tersebut awalnya disepakati pada Juli 2025 oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, namun belum diratifikasi oleh Parlemen Eropa. Dalam perjanjian itu, AS memberlakukan tarif 15% atas ekspor Uni Eropa, sementara Uni Eropa berjanji memangkas tarifnya terhadap barang-barang AS hingga nol persen.
Namun, kesepakatan ini menuai kritik tajam setelah Trump secara terbuka mengancam akan mengambil alih Greenland dan memberlakukan tarif tambahan 10% terhadap delapan negara Eropa karena ikut dalam misi militer di Arktik.
Akibatnya, Parlemen Eropa membekukan proses ratifikasi pada Januari 2026. Proses tersebut baru dilanjutkan beberapa pekan kemudian setelah masing-masing kelompok politik di Parlemen menyepakati rumusan baru untuk memperkuat perlindungan terhadap kepentingan Uni Eropa.
Klausul Penghentian dan Mekanisme Pengawasan Baru
Dalam rancangan akhir yang akan diputuskan secara resmi pada 24 Februari oleh Komite Kemitraan Internasional, perjanjian tersebut kini mencakup “klausa penghentian otomatis,” yang akan menghentikan keringanan tarif Uni Eropa pada Maret 2028, kecuali diperpanjang secara eksplisit.
Selain itu, terdapat pula “klausa penangguhan”, yang memungkinkan Uni Eropa menghentikan sebagian kesepakatan jika Amerika Serikat melanggar komitmen perdagangan.
“Setelah polemik soal Greenland, kami menambahkan kriteria baru terkait kedaulatan teritorial ke dalam mekanisme penangguhan,” jelas Bernd Lange, anggota Parlemen Eropa dari Partai Sosialis yang juga menjadi negosiator Utama, seperti dikutip dari Euronews, Rabu (11/2/2026).
Rancangan ini juga memperkenalkan mekanisme pengamanan untuk melindungi pasar internal Uni Eropa dari potensi dampak negatif akibat penghapusan tarif terhadap barang-barang asal AS.
Tarif Baja Jadi Ujian Implementasi
Kesepakatan baru ini juga mengatur bahwa tarif dapat diberlakukan kembali secara otomatis jika Amerika Serikat gagal menurunkan bea masuknya menjadi 15% untuk lebih dari 400 produk berbasis baja, sebagaimana dijanjikan dalam pertemuan puncak tahun lalu.
Jika disetujui oleh sidang pleno Parlemen Eropa pada Maret, tahap berikutnya adalah negosiasi dengan pemerintah negara-negara anggota Uni Eropa, yang kemungkinan masih akan memunculkan perubahan dalam beberapa pasal.
Kesepakatan ini dipandang sebagai langkah strategis untuk menstabilkan hubungan ekonomi transatlantik, meski masih dibayangi oleh ketegangan politik dan kebijakan proteksionis AS. (ren)
