Trump Ultimatum Zelenskyy: “Rusia Siap Berdamai, tapi Waktumu Hampir Habis!”

Trump desak Zelenskyy segera bernegosiasi dengan Rusia, peringatkan waktu hampir habis menjelang pembicaraan damai di Jenewa.

Sabtu, 14 Februari 2026 - 11:45 WIB
Trump Ultimatum Zelenskyy: “Rusia Siap Berdamai, tapi Waktumu Hampir Habis!”
Presiden AS Donald Trump berbicara kepada wartawan di Washington, menyerukan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy agar segera menanggapi tawaran damai Rusia. Foto: Sputnik for Hallonews

HALLONEWS.ID-Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menekan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk segera mengambil langkah dalam negosiasi damai dengan Rusia. Trump menegaskan bahwa Moskow telah membuka pintu kesepakatan, namun kesempatan itu tidak akan bertahan lama.

“Zelenskyy harus segera bertindak. Rusia ingin membuat kesepakatan. Jika tidak, dia akan kehilangan kesempatan besar,” ujar Trump di Washington, Jumat (13/2/2026) waktu setempat.

Pernyataan keras itu muncul menjelang putaran baru pembicaraan damai Rusia–Ukraina yang dijadwalkan berlangsung 17–18 Februari 2026 di Jenewa, dipimpin oleh Asisten Presiden Rusia Vladimir Medinsky.

Sebelumnya, dua pertemuan awal dipimpin oleh Igor Kostyukov, dan menghasilkan pertukaran tawanan perang 157 banding 157 antara kedua pihak.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan bahwa tanggung jawab memulai perundingan sepenuhnya berada di tangan Ukraina. Ia memperingatkan bahwa semakin jauh pasukan Rusia maju di medan perang, semakin sempit ruang negosiasi bagi Kyiv.

“Melanjutkan pertempuran hanya akan memperburuk situasi dan membahayakan Ukraina sendiri,” kata Peskov.

Menurut sumber diplomatik, Amerika Serikat ikut menengahi pembicaraan tertutup yang digelar di Abu Dhabi pada akhir Januari hingga awal Februari. Pertemuan itu membahas rencana perdamaian yang diusulkan AS, yang disebut sebagai “formulasi kompromi” antara tuntutan Rusia dan kepentingan keamanan Ukraina.

Isi Bocoran Usulan AS

Menurut laporan media internasional, rancangan kesepakatan versi Washington mencakup poin-poin sensitif, di antaranya penyerahan kendali penuh Donbass dan pengakuan Krimea sebagai wilayah Rusia; pembekuan garis depan di wilayah Zaporozhye dan Kherson; pengurangan separuh kekuatan militer Ukraina; dan larangan pengerahan pasukan dan senjata jarak jauh asing di Ukraina.

Kremlin menyebut, rencana ini mengacu pada formula yang dibahas di KTT Alaska, dan menegaskan bahwa penarikan pasukan Ukraina dari Donbass adalah syarat utama agar perjanjian jangka panjang bisa tercapai.

Pernyataan Trump menjadi tekanan diplomatik terbaru bagi Zelenskyy di tengah situasi medan perang yang stagnan dan dukungan Barat yang mulai melemah.

Analis menilai ultimatum ini bukan hanya seruan damai, tapi juga peringatan keras bahwa Washington mulai kehilangan kesabaran terhadap lambannya langkah Kyiv.

Jika Ukraina gagal merespons, Moskow bisa memanfaatkan momentum untuk memaksakan hasil di meja perundingan, atau di medan perang. (ren)