Drone Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait, Pentagon Ungkap Identitas 4 Tentara yang Tewas
Pentagon mengidentifikasi empat dari enam tentara Amerika Serikat yang tewas akibat serangan drone di Kuwait pada Minggu (1/3/2026), di tengah eskalasi perang AS–Iran di Timur Tengah.

HALLONEWS.ID – Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) pada Selasa (3/3/2026) waktu setempat, mengumumkan identitas empat dari enam tentara AS yang tewas dalam serangan pesawat tak berawak di Pelabuhan Shuabia, Kuwait, pada Minggu (1/3/2026).
Serangan drone tersebut terjadi di fasilitas militer yang digunakan pasukan Amerika Serikat sebagai pusat operasi logistik di kawasan Teluk.
Empat prajurit yang diumumkan identitasnya oleh Pentagon adalah Kapten Cody A. Khork (35) dari Winter Haven, Florida; Sersan Kelas Satu Noah L. Tietjens (42) dari Bellevue, Nebraska; Sersan Kelas Satu Nicole M. Amor (39) dari White Bear Lake, Minnesota; dan Spesialis Declan J. Coady (20) dari West Des Moines, Iowa.
Keempatnya merupakan anggota pasukan cadangan Angkatan Darat Amerika Serikat yang bertugas di 103rd Sustainment Command (Expeditionary) yang berbasis di Des Moines, Iowa.
Menurut Pentagon, para tentara tersebut sedang menjalankan tugas logistik di area pelabuhan ketika serangan drone menghantam lokasi mereka.
Serangan itu menyebabkan enam tentara AS tewas dan sedikitnya 18 lainnya mengalami luka-luka, menjadikannya salah satu insiden paling mematikan bagi militer Amerika sejak konflik dengan Iran meningkat.
Serangan drone tersebut diduga merupakan bagian dari gelombang serangan balasan Iran terhadap operasi militer Amerika Serikat dan Israel di wilayah Timur Tengah.
Hingga kini, Pentagon masih menahan pengumuman identitas dua tentara lainnya yang juga tewas, karena proses pemberitahuan kepada keluarga korban masih berlangsung.
Insiden ini semakin mempertegas eskalasi konflik di kawasan Teluk, di mana serangan drone dan rudal terus terjadi sejak operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran dimulai pada akhir pekan lalu.
Pentagon juga menyatakan tengah melakukan evaluasi terhadap sistem pertahanan dan perlindungan fasilitas militer di kawasan tersebut, terutama terhadap ancaman serangan drone yang semakin meningkat. (ren)
