Israel Gempur Iran Besar-besaran, Perang Timur Tengah Masuk Hari Kelima
Perang Timur Tengah kian memanas pada Rabu (4/3/2026) setelah Israel meluncurkan gelombang serangan besar-besaran ke Iran, sementara Teheran membalas dengan rudal dan drone ke wilayah Israel.

HALLONEWS.ID – Militer Israel mengumumkan telah memulai “gelombang serangan besar-besaran” terhadap Iran pada Rabu (4/3/2026), menandai eskalasi baru dalam konflik yang kini memasuki hari kelima.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan serangan tersebut menargetkan berbagai fasilitas militer penting milik Iran, termasuk lokasi peluncuran rudal, sistem pertahanan udara, serta infrastruktur militer lainnya.
Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Garda Revolusi Iran meluncurkan gelombang baru rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, menurut laporan media pemerintah Iran.
Militer Israel mengklaim sistem pertahanan udara mereka telah diaktifkan untuk mencegat ancaman yang datang dari wilayah Iran.
Konflik Meluas ke Negara-Negara Teluk
Seiring meningkatnya intensitas perang, konflik kini mulai berdampak ke berbagai negara di kawasan Timur Tengah.
Arab Saudi pada hari yang sama mengumumkan berhasil mencegat dua rudal jelajah di wilayah Al-Kharj, selatan Riyadh. Selain itu, kementerian pertahanan negara tersebut juga menyatakan telah menjatuhkan sembilan drone yang masuk ke wilayah udara mereka.
Ketegangan meningkat setelah sebelumnya kedutaan besar Amerika Serikat di Riyadh sempat diserang drone yang memicu kebakaran kecil.
Israel Keluarkan Peringatan Evakuasi di Lebanon
Di saat yang sama, Israel juga memperluas operasi militernya dengan mengeluarkan peringatan evakuasi untuk 16 desa dan kota di Lebanon selatan.
Juru bicara militer Israel Avichay Adraee meminta warga menjauh setidaknya 1 kilometer dari fasilitas yang diduga terkait Hizbullah.
“Siapa pun yang berada di dekat anggota, fasilitas, dan persenjataan Hizbullah mempertaruhkan nyawanya,” kata pernyataan militer Israel.
Langkah ini dipandang sebagai sinyal bahwa serangan baru terhadap kelompok Hizbullah kemungkinan akan segera dilakukan.
Trump: “Semua Sudah Dihancurkan”
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga memberikan pernyataan keras terkait operasi militer tersebut.
Ia mengklaim bahwa banyak kemampuan militer Iran telah dihancurkan, meskipun ia juga mengakui ketidakpastian mengenai siapa yang akan memimpin Iran setelah konflik.
Trump kembali mengkritik Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer yang dinilai enggan terlibat langsung dalam operasi militer tersebut.
“Ini bukan Churchill yang sedang kita hadapi,” kata Trump kepada wartawan.
Dalam pernyataan terpisah di platform Truth Social, Trump juga menyatakan Angkatan Laut AS siap mengawal kapal tanker minyak di Selat Hormuz jika diperlukan, menyusul ancaman Iran terhadap jalur energi global tersebut.
Inggris Kirim Kapal Perang
Pemerintah Inggris pada Rabu (4/3/2026) juga mengumumkan pengiriman kapal perang besar dan helikopter anti-drone ke kawasan Timur Tengah.
Langkah ini diambil setelah pangkalan RAF Akrotiri di Siprus dilaporkan terkena serangan drone.
Selain itu, pemerintah Inggris juga mulai mengevakuasi warganya dari Oman, dengan penerbangan komersial yang dijadwalkan berangkat dari Muscat pada Rabu (4/3/2026) malam.
AS Klaim Pertahanan Iran Melemah
Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi militer terhadap Iran telah melemahkan sistem pertahanan udara Teheran secara signifikan.
Laksamana Brad Cooper mengungkapkan pasukan AS telah menyerang hampir 2.000 target militer Iran, menghancurkan ratusan rudal balistik dan peluncurnya, serta menenggelamkan 17 kapal Iran.
Ia juga mengeklaim Iran telah meluncurkan lebih dari 500 rudal balistik dan 2.000 drone selama konflik berlangsung.
“Kami akan terus memburu peluncur rudal balistik yang masih tersisa,” kata Cooper.
Hezbollah Dinilai Melemah
Sejumlah analis militer menilai konflik terbaru ini juga menunjukkan melemahnya kelompok Hizbullah di Lebanon, yang selama bertahun-tahun menjadi ancaman utama bagi Israel di wilayah utara.
Beberapa operasi intelijen Israel sebelumnya disebut telah menewaskan sejumlah pemimpin senior Hizbullah serta menghancurkan sebagian besar peralatan militernya.
Meski kelompok tersebut masih melakukan serangan roket ke Israel, intensitasnya dinilai jauh lebih kecil dibanding konflik sebelumnya. (ren)
