Israel Hantam Depot Minyak di Teheran, Ketegangan di Negara-Negara Teluk Meluas Menyusul Balasan Iran
Serangan udara Israel menghantam depot minyak di Teheran. Iran membalas dengan drone dan rudal ke kawasan Teluk, memicu kekhawatiran konflik Timur Tengah semakin meluas.

HALLONEWS.ID – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Israel melancarkan serangan udara yang menghantam fasilitas penyimpanan minyak di Teheran, Iran, pada Minggu (8/3/2026).
Seperti dilaporkan Al Jazeera, serangan tersebut memicu ledakan besar dan kebakaran di salah satu depot minyak di ibu kota Iran.
Asap hitam pekat terlihat membumbung tinggi di langit Teheran, menandai eskalasi terbaru dalam konflik antara kedua negara.
Laporan media internasional menyebutkan bahwa fasilitas energi jadi target strategis dalam serangan terbaru Israel. Infrastruktur energi dinilai memiliki peran penting dalam menopang ekonomi dan logistik militer Iran.
Di sisi lain, Iran dilaporkan terus melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal ke berbagai target di kawasan Timur Tengah.
Beberapa negara di Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar dilaporkan meningkatkan sistem pertahanan udara mereka untuk mengantisipasi potensi serangan lanjutan.
Sejumlah laporan menyebutkan sebagian besar drone dan rudal berhasil dicegat sebelum mencapai target. Meski demikian, situasi keamanan di kawasan tetap berada dalam kondisi siaga tinggi.
Konflik antara Iran dan Israel dalam beberapa pekan terakhir telah memicu kekhawatiran global. Selain berpotensi memperluas perang regional, ketegangan ini juga dapat mengganggu stabilitas pasokan energi dunia.
Kawasan Teluk dan Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi distribusi minyak global. Setiap gangguan keamanan di wilayah tersebut berpotensi memengaruhi harga energi dan perekonomian internasional.
Sejumlah negara dan organisasi internasional kini mendesak kedua pihak untuk menahan diri serta membuka jalur diplomasi guna mencegah konflik yang lebih luas.
Sebab eskalasi militer yang terus meningkat dapat menyeret lebih banyak negara ke dalam konflik jika tidak segera dikendalikan. (wib)
