Lebanon Dibombardir Israel, PBB Minta Dana Darurat Rp4,8 Triliun untuk Bantuan Kemanusiaan

Perserikatan Bangsa-Bangsa meminta dana darurat lebih dari 300 juta dolar AS untuk membantu Lebanon setelah serangan Israel menyebabkan ratusan korban tewas dan ratusan ribu warga mengungsi.

Sabtu, 14 Maret 2026 - 10:37 WIB
Lebanon Dibombardir Israel, PBB Minta Dana Darurat Rp4,8 Triliun untuk Bantuan Kemanusiaan
Kerusakan bangunan di pusat Kota Beirut setelah serangan Israel yang menargetkan posisi Hizbullah di Lebanon. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.ID – United Nations (UN) atau Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan penggalangan dana darurat lebih dari 300 juta dolar AS untuk membantu kebutuhan kemanusiaan di Lebanon setelah serangan militer Israel memicu krisis pengungsian besar di negara tersebut.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB António Guterres mengatakan komunitas internasional harus menunjukkan dukungan nyata bagi rakyat Lebanon yang terdampak konflik.

“Solidaritas dalam kata-kata harus diimbangi dengan solidaritas dalam tindakan,” kata Guterres saat mengumumkan kampanye penggalangan dana sebesar 308 juta dolar AS atau sekitar Rp4,8 triliun seperti dilansir Sky News, Sabtu (14/3/2026).

Menurut PBB, lebih dari 800.000 warga Lebanon, sekitar seper tujuh dari total populasi negara tersebut, telah mengungsi setelah militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi selama operasi militernya melawan kelompok Hizbullah yang dimulai pada 2 Maret 2026.

Serangan Israel terhadap kelompok militan yang didukung Iran tersebut sebagian besar terfokus di ibu kota Lebanon, Beirut, meskipun sejumlah wilayah lain di negara itu juga mengalami dampak signifikan.

Berbagai organisasi kemanusiaan yang beroperasi di Lebanon mengatakan keterbatasan pendanaan membuat mereka terpaksa membatasi distribusi bantuan kepada para korban konflik.

Gambar-gambar dari pusat kota Beirut menunjukkan kerusakan cukup parah pada sejumlah bangunan akibat serangan udara Israel.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan jumlah korban tewas akibat serangan Israel telah mencapai 773 orang, termasuk lebih dari 100 anak-anak.

Hizbullah Siap Hadapi Perang Panjang

Di tengah meningkatnya konflik, pemimpin kelompok Hizbullah Naim Qassem menegaskan bahwa organisasinya siap menghadapi perang berkepanjangan dengan Israel.

“Kami telah mempersiapkan diri untuk konfrontasi panjang dengan Israel, dan mereka akan terkejut di medan perang,” kata Qassem dalam pidatonya.

Ia juga menanggapi ancaman Israel untuk membunuhnya dengan mengatakan bahwa ancaman tersebut tidak membuatnya gentar.

Menurut Qassem, keterlibatan Hizbullah dalam konflik saat ini bertujuan melemahkan posisi Israel agar dapat memperoleh kesepakatan yang lebih menguntungkan bagi Lebanon.

“Tidak ada solusi selain melalui perlawanan. Tanpa itu, Lebanon bisa menghadapi kehancuran,” ujarnya.

Sementara itu, militer Israel, Israel Defense Forces, menyatakan telah menewaskan sekitar 380 anggota Hizbullah dalam lebih dari 1.100 serangan militer yang dilancarkan sejak awal operasi pada 2 Maret.

Konflik yang terus berlanjut tersebut meningkatkan kekhawatiran komunitas internasional terhadap potensi krisis kemanusiaan yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. (ren)