Trump Tolak Usulan Putin Pindahkan Uranium Iran ke Rusia, Ketegangan Timur Tengah Memanas

Presiden AS Donald Trump menolak proposal Vladimir Putin untuk memindahkan uranium Iran ke Rusia, di tengah upaya mencari solusi mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Sabtu, 14 Maret 2026 - 12:05 WIB
Trump Tolak Usulan Putin Pindahkan Uranium Iran ke Rusia, Ketegangan Timur Tengah Memanas
Presiden AS Donald Trump (kanan) dan Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri pertemuan di Pangkalan Gabungan Elmendorf-Richardson di Anchorage, Alaska, Amerika Serikat, 15 Agustus 2025. Foto: CGTN for Hallonews.

HALLONEWS.ID – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan menolak usulan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memindahkan uranium yang telah diperkaya milik Iran ke Rusia.

Penolakan tersebut disampaikan Trump dalam percakapan telepon dengan Putin pada awal pekan ini, sebagaimana dilaporkan media Amerika Serikat, Axios, yang mengutip sejumlah sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut.

Dalam proposal tersebut, Putin mengusulkan agar Rusia menarik uranium Iran yang telah diperkaya hingga 60 persen sebagai bagian dari langkah untuk meredakan konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

Namun, Trump dilaporkan tidak menerima gagasan tersebut.

“Ini bukan pertama kalinya tawaran itu diajukan. Tawaran itu belum diterima. Posisi AS adalah kami perlu memastikan uranium tersebut diamankan,” kata seorang pejabat AS seperti dikutip Axios, Sabtu (14/3/2026).

Menurut laporan tersebut, gagasan memindahkan uranium Iran ke Rusia merupakan salah satu dari beberapa proposal yang disampaikan Putin dalam percakapan telepon dengan Trump pada Senin pekan ini.

Usulan tersebut dimaksudkan sebagai bagian dari upaya mencari jalan keluar diplomatik untuk menghentikan konflik yang semakin meningkat di kawasan Timur Tengah.

Namun hingga kini belum jelas apakah Iran akan menerima ide tersebut.

Dalam putaran perundingan terakhir sebelum konflik pecah, Iran diketahui menolak rencana pemindahan uranium ke luar negeri.

Sebagai alternatif, Teheran mengusulkan agar uranium yang telah diperkaya tersebut diencerkan di fasilitas nuklir miliknya sendiri di bawah pengawasan International Atomic Energy Agency (IAEA).

AS Pertimbangkan Operasi Khusus

Sebelumnya, Axios bersama sejumlah media lain juga melaporkan bahwa pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan opsi mengirim pasukan operasi khusus ke Iran.

Misi tersebut disebut bertujuan untuk mengamankan atau merebut cadangan uranium yang sangat diperkaya milik Iran.

Namun ketika ditanya dalam wawancara dengan Fox News mengenai kemungkinan operasi untuk mengambil uranium tersebut, Trump memberikan jawaban yang lebih berhati-hati.

“Kami tidak fokus pada hal itu. Tetapi suatu saat nanti mungkin kami akan melakukannya,” kata Trump.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa opsi militer masih terbuka, meskipun pemerintah AS saat ini mengklaim lebih memprioritaskan langkah lain dalam menangani konflik dengan Iran. (ren)