IRGC Ancam Bunuh Netanyahu, Perang Iran–Israel Kian Membara
Garda Revolusi Iran mengancam akan memburu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat terus meningkat di Timur Tengah.

HALLONEWS.ID – Ketegangan perang di Timur Tengah semakin meningkat setelah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Iran bersumpah akan memburu dan membunuh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Ancaman tersebut disampaikan melalui situs resmi IRGC, Sepah News, pada Minggu (15/3/2026), di tengah konflik yang terus berlanjut antara Iran dengan Israel serta Amerika Serikat.
“Jika penjahat pembunuh anak ini masih hidup, kami akan terus mengejar dan membunuhnya dengan kekuatan penuh,” tulis IRGC dalam pernyataannya.
Pernyataan tersebut menandai meningkatnya eskalasi konflik militer yang kini meluas di kawasan Timur Tengah.
Trump Tolak Kesepakatan dengan Iran
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan dirinya belum siap menyetujui kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang.
Dalam wawancara dengan NBC News, Trump mengatakan bahwa Iran sebenarnya telah menunjukkan keinginan untuk mencapai kesepakatan, namun syarat yang diajukan dinilai belum memadai.
“Iran ingin membuat kesepakatan, tetapi saya belum siap melakukannya karena persyaratannya belum cukup baik,” kata Trump.
Ia juga menyatakan masih belum jelas apakah Iran telah menanam ranjau di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Ledakan Terdengar di Bahrain
Di kawasan Teluk, ledakan keras dilaporkan terdengar di ibu kota Bahrain, Manama, pada Minggu pagi.
Pemerintah Bahrain menyatakan sejak awal serangan Iran mereka telah mencegat 125 rudal dan 203 drone yang diluncurkan ke wilayah kerajaan tersebut.
Serangan itu dilaporkan menewaskan dua orang di Bahrain serta 24 korban jiwa di negara-negara Teluk lainnya.
UEA Pilih Menahan Diri
Pejabat senior United Arab Emirates mengatakan negaranya memiliki hak untuk membela diri dari serangan Iran, namun memilih menahan diri demi mencegah konflik semakin meluas.
Penasihat presiden UEA Anwar Gargash menegaskan bahwa negaranya tetap mengedepankan pendekatan diplomatik.
“UEA berhak membela diri terhadap agresi ini, tetapi kami memilih menahan diri dan mencari solusi bagi Iran dan kawasan,” ujarnya.
Serangan Meluas di Kawasan Teluk
Eskalasi konflik juga berdampak pada infrastruktur energi di kawasan Teluk.
Asap hitam terlihat membumbung di wilayah pelabuhan Fujairah setelah terminal penyimpanan minyak utama UEA terkena puing-puing drone.
Selain itu, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Irak kembali menjadi sasaran serangan drone untuk kedua kalinya sejak konflik dimulai.
Iran sebelumnya juga memperingatkan akan membalas serangan Amerika Serikat terhadap Pulau Kharg, yang menjadi pusat ekspor minyak utama negara tersebut.
Konflik Meluas ke Lebanon
Konflik juga meluas ke Lebanon setelah Israel melancarkan serangan udara terhadap kelompok Hezbollah yang didukung Iran.
Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan tersebut telah menewaskan ratusan orang sejak operasi militer terbaru Israel dimulai.
Eskalasi konflik ini meningkatkan kekhawatiran internasional bahwa perang di Timur Tengah dapat berkembang menjadi konflik regional yang lebih besar. (ren)
