Free Float Duta Pertiwi (DUTI) Menyusut ke 0,59% Setelah Aksi Penambahan Saham oleh BSDE

Free float saham DUTI menyusut menjadi 0,59% setelah aksi pembelian oleh BSDE senilai Rp559 miliar, memicu perhatian terhadap kepatuhan aturan BEI dan prospek saham.

Minggu, 22 Maret 2026 - 22:02 WIB
Free Float Duta Pertiwi (DUTI) Menyusut ke 0,59% Setelah Aksi Penambahan Saham oleh BSDE
Logo Duta Pertiwi (dok Yes Invest)

HALLONEWS.ID – T Duta Pertiwi Tbk (DUTI) menghadapi penurunan porsi kepemilikan saham publik atau free float setelah aksi pembelian saham oleh pemegang saham pengendali.

PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dilaporkan membeli saham DUTI dengan nilai transaksi sekitar Rp559,26 miliar, yang menyebabkan porsi saham yang beredar di publik tersisa sekitar 0,59%.

Penurunan free float tersebut membuat perseroan perlu mengambil langkah untuk menyesuaikan dengan ketentuan Bursa Efek Indonesia yang mensyaratkan porsi kepemilikan publik minimum.

Direktur PT Duta Pertiwi (DUTI), Handoko Wiboro menyampaikan melalui keterbukaan informasi di BEI bahwa, “Perusahaan belum memiliki rencana untuk melakukan tindakan korporasi dalam waktu dekat, termasuk rencana korporasi yang akan berakibat terhadap pencatatan saham perusahaan di Bursa, paling tidak dalam tiga bulan mendatang.”

PT Duta Pertiwi Tbk adalah perusahaan properti yang kegiatan utamanya meliputi pengembangan superblok dan kawasan komersial, perumahan, gedung perkantoran, serta hotel.

Perusahaan yang merupakan anak usaha PT Bumi Serpong Damai Tbk dan bagian dari Grup Sinar Mas ini memiliki pusat pengembangan di wilayah Jabodetabek serta beberapa kota besar lainnya seperti Surabaya dan Balikpapan.

Pergerakan Harga Saham

Saham PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI) berada di level Rp4.310. Dalam jangka pendek, saham ini mencatatkan kenaikan sekitar 11,66% dalam satu minggu terakhir dan menguat sekitar 4,61% dalam periode satu bulan.

Dalam tiga bulan terakhir saham DUTI juga mengalami kenaikan sekitar 1,89%. Secara tahunan, saham ini menguat sekitar 31,80%. Namun dalam periode yang lebih panjang, saham DUTI tercatat turun sekitar 7,51% dalam tiga tahun terakhir, sementara dalam lima tahun terakhir masih mencatat kenaikan sekitar 19,72%.

Analisis Yesinvest

Dari sisi fundamental, kinerja laba bersih Duta Pertiwi menunjukkan dinamika dalam beberapa tahun terakhir. Laba bersih tercatat sebesar Rp660 miliar pada 2021 dan meningkat menjadi Rp748 miliar pada 2022.

Pada 2023 laba bersih kembali meningkat menjadi Rp1,066 triliun. Namun pada 2024 laba bersih menurun menjadi Rp852 miliar dan kembali turun menjadi sekitar Rp422 miliar pada 2025, yang menunjukkan adanya tekanan terhadap kinerja profitabilitas dalam dua tahun terakhir.

Dari sisi valuasi, saham DUTI saat ini diperdagangkan dengan rasio price to earnings ratio sekitar 18,89 kali. Level valuasi ini mencerminkan bahwa pasar memberikan penilaian yang relatif moderat terhadap saham perusahaan, dengan mempertimbangkan prospek sektor properti serta dinamika kinerja perusahaan dalam beberapa periode terakhir.

Dari perspektif teknikal, saham DUTI sebelumnya bergerak dalam fase sideways yang cukup panjang dan sempat menembus batas atas pola tersebut.

Namun harga belum mampu melanjutkan penguatan setelah gagal menembus area resistance kuat di sekitar 4.950 dan kemudian mengalami koreksi. Dalam jangka pendek, area resistance terdekat berada di sekitar 4.950, sementara support terdekat berada di kisaran 3.840. (Hendeka Putra / Research Analyst Yes Invest)

 

Disclaimer

Artikel ini merupakan produk jurnalistik Hallo News yang disusun berdasarkan informasi, data, dan narasumber yang dianggap kredibel pada saat penulisan. Seluruh konten disajikan untuk tujuan informasi dan edukasi, serta bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau nasihat untuk membeli, menjual, maupun menahan instrumen investasi atau produk keuangan tertentu.

Segala keputusan yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi pembaca. Hallo News tidak bertanggung jawab atas segala bentuk keuntungan maupun kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari penggunaan informasi dalam artikel ini.