AS Susun 15 Poin Rencana Damai dengan Iran, Selat Hormuz dan Nuklir Jadi Fokus

Amerika Serikat dilaporkan menyusun 15 poin rencana damai untuk mengakhiri konflik dengan Iran, termasuk penghentian program nuklir, pembukaan Selat Hormuz, dan pencabutan sanksi.

Rabu, 25 Maret 2026 - 10:03 WIB
AS Susun 15 Poin Rencana Damai dengan Iran, Selat Hormuz dan Nuklir Jadi Fokus
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berbicara kepada wartawan saat memberikan keterangan pers terkait konflik Iran dan rencana perundingan damai di Gedung Putih. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.ID – Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah menyiapkan dokumen berisi 15 poin sebagai bagian dari upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik dengan Iran. Rencana tersebut disebut memiliki format yang mirip dengan pendekatan yang sebelumnya digunakan Washington dalam konflik di Gaza dan Lebanon.

Menurut laporan media Israel, seperti dikutip Sky News, Rabu (25/3/2026), rencana tersebut mencakup sejumlah tuntutan utama terkait program nuklir Iran, aktivitas militer, hingga pembukaan Selat Hormuz. Namun, belum diketahui secara pasti apakah Israel menyetujui rencana tersebut.

Sementara itu, laporan media Amerika menyebutkan proposal tersebut disampaikan melalui Pakistan sebagai pihak mediator dalam upaya membuka jalur negosiasi antara Washington dan Teheran.

Isi Rencana Damai 15 Poin

Berdasarkan sejumlah laporan, rencana tersebut antara lain mencakup kewajiban Iran untuk menghentikan program nuklir militernya, tidak lagi memperkaya uranium, serta menonaktifkan fasilitas nuklir utama seperti Natanz, Isfahan, dan Fordow.

Selain itu, Iran juga diminta membatasi program rudal, menghentikan dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan Timur Tengah, serta menjamin Selat Hormuz tetap terbuka sebagai jalur perdagangan minyak dunia.

Sebagai imbalannya, Amerika Serikat dan sekutunya disebut akan mencabut sanksi terhadap Iran serta membantu pengembangan program nuklir sipil Iran, termasuk proyek pembangkit listrik nuklir Bushehr.

Trump Klaim Iran Siap Buat Kesepakatan

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya menyampaikan sejumlah pernyataan terkait konflik dengan Iran dan proses negosiasi yang disebut sedang berlangsung.

Trump mengklaim Iran telah sepakat tidak akan memiliki senjata nuklir dan menyebut negaranya telah memenangkan perang melawan Iran. Ia juga mengatakan bahwa pembicaraan dengan Iran sedang berlangsung dan melibatkan sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat.

“Kami sedang dalam negosiasi saat ini. Mereka ingin membuat kesepakatan,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Selasa (24/3/2026) waktu setempat.

Trump juga menyebut Iran memberikan “hadiah besar” kepada Amerika Serikat yang berkaitan dengan minyak, gas, dan Selat Hormuz, meskipun ia tidak menjelaskan secara rinci maksud pernyataan tersebut.

Iran Bantah Negosiasi, Pakistan Tawarkan Mediasi

Di sisi lain, Iran membantah bahwa negosiasi dengan Amerika Serikat sedang berlangsung dan menyebut klaim tersebut sebagai berita palsu. Pemerintah Iran juga menyatakan akan terus melanjutkan perlawanan hingga mencapai kemenangan penuh dalam konflik yang sedang berlangsung.

Sementara itu, Pakistan menyatakan kesiapan untuk menjadi mediator dan menjadi tuan rumah perundingan damai antara kedua negara.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan negaranya siap memfasilitasi pembicaraan damai jika disetujui oleh kedua pihak.

“Dengan persetujuan dari AS dan Iran, Pakistan siap menjadi tuan rumah pembicaraan untuk penyelesaian konflik secara menyeluruh,” ujarnya melalui media sosial.

Upaya diplomasi ini menunjukkan bahwa di tengah meningkatnya ketegangan militer, jalur negosiasi dan diplomasi masih terus diupayakan oleh berbagai negara untuk mencegah konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. (ren)