Trump Klaim Ada Kesepakatan Damai, Iran Bantah dan Sebut Itu Berita Palsu

Donald Trump klaim AS capai kemajuan negosiasi dengan Iran dan kirim proposal 15 poin. Namun konflik masih berlanjut dan militer AS justru diperkuat.

Rabu, 25 Maret 2026 - 10:30 WIB
Trump Klaim Ada Kesepakatan Damai, Iran Bantah dan Sebut Itu Berita Palsu
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (IG Donald Trump)

HALLONEWS.ID – Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa negaranya tengah membuat kemajuan signifikan dalam upaya mengakhiri konflik dengan Iran.

Dalam pernyataannya di Gedung Putih pada Selasa (24/4/2026), Trump menyebut Washington sedang berkomunikasi dengan “orang-orang yang tepat” di Teheran guna mencapai kesepakatan damai.

Ia bahkan mengungkapkan bahwa Iran disebut sangat ingin menyudahi konflik tersebut. Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh Iran.

Sejumlah pejabat tinggi, termasuk Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf, menyebut laporan adanya pembicaraan langsung sebagai “berita palsu”.

Di tengah perbedaan pernyataan tersebut, laporan media internasional termasuk CNA menyebut bahwa Amerika Serikat telah mengirimkan proposal penyelesaian konflik berupa rencana 15 poin kepada Iran.

Proposal ini diyakini mencakup isu-isu krusial seperti pembongkaran program nuklir Iran, penghentian dukungan terhadap kelompok proksi, serta pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz.

Sebuah sumber yang mengetahui perkembangan ini mengonfirmasi bahwa proposal tersebut memang telah dikirim, meskipun rincian lengkapnya belum diungkap ke publik.

Sementara itu, laporan dari media Israel menyebut AS tengah mendorong gencatan senjata selama satu bulan untuk membuka ruang negosiasi lebih lanjut.

Selat Hormuz jadi salah satu titik krusial dalam konflik ini. Jalur laut tersebut sebelumnya ditutup oleh Iran setelah serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel sekitar empat minggu lalu.

OLAHRAGA Penutupan ini berdampak besar terhadap pasokan energi global, mengingat sekitar 20 persen distribusi minyak dunia melewati wilayah tersebut.

Trump menyebut bahwa Iran telah memberikan “konsesi besar” terkait akses energi non-nuklir dan navigasi di Selat Hormuz. Bahkan, Iran dilaporkan telah memberi izin bagi kapal non-musuh untuk melintas dengan koordinasi tertentu.

“Itu adalah hadiah yang sangat besar,” kata Trump, merujuk pada langkah Iran tersebut.

Meski ada sinyal diplomasi, situasi di lapangan masih jauh dari kata reda. Serangan antara pihak-pihak yang terlibat terus berlangsung. Bahkan, Amerika Serikat dilaporkan tengah bersiap mengirim ribuan tambahan pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke kawasan Timur Tengah.

Langkah ini akan menambah sekitar 50.000 personel militer AS yang sudah berada di wilayah tersebut, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas dan berkepanjangan.

Di tengah situasi yang memanas, Shehbaz Sharif menawarkan diri untuk menjadi mediator. Ia menyatakan kesiapan Pakistan menjadi tuan rumah perundingan antara AS dan Iran guna mencapai penyelesaian komprehensif.

Konflik ini sendiri bermula pada 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran setelah negosiasi terkait program nuklir mengalami kebuntuan.

Kini, dunia menanti apakah jalur diplomasi benar-benar bisa menghentikan konflik, atau justru situasi akan semakin memburuk di kawasan paling strategis bagi energi global tersebut.(wib)