Iran Sampaikan ke China: Akan Terus Berperang sampai AS dan Israel Menyesal

Iran menyatakan akan terus melanjutkan perang hingga Amerika Serikat dan Israel menyesali serangan awal, sementara Selat Hormuz menjadi tekanan strategis dalam konflik Timur Tengah.

Rabu, 25 Maret 2026 - 12:52 WIB
Iran Sampaikan ke China: Akan Terus Berperang sampai AS dan Israel Menyesal
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan pernyataan terkait konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.ID – Iran menyatakan akan terus melanjutkan perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel hingga kedua negara tersebut “menyesali” serangan awal yang memicu konflik di Timur Tengah.

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, pada Selasa (24/3/2026), seperti dikutip Sky News, Rabu (25/3/2026).

Dalam pembicaraan tersebut, China kembali mengecam serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Wang Yi menegaskan pentingnya menghentikan tindakan intimidasi dalam hubungan internasional dan menyelesaikan konflik melalui jalur diplomasi serta hukum internasional.

Sementara itu, Araghchi menegaskan Iran akan terus mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayahnya hingga tujuan negara tersebut tercapai.

“Iran memiliki tekad kuat untuk terus mempertahankan kedaulatan nasional dan integritas wilayah hingga semua tujuan tercapai dan musuh menyesali tindakan agresi brutal ini,” kata Araghchi.

Selat Hormuz Jadi Tekanan Strategis

Iran juga mengaitkan konflik yang terjadi dengan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia yang menjadi rute utama perdagangan minyak global. Teheran menilai Amerika Serikat dan Israel bertanggung jawab atas situasi tersebut.

Menurut laporan internasional, Iran telah memberi tahu badan maritim Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa kapal-kapal yang dianggap tidak bermusuhan masih dapat melintasi Selat Hormuz, namun harus berkoordinasi dengan otoritas Iran.

Selat Hormuz merupakan jalur vital karena sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati wilayah tersebut setiap hari. Sejak konflik dimulai, banyak kapal komersial menghentikan pelayaran melalui jalur tersebut karena risiko keamanan yang meningkat.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya juga menyebut bahwa Iran telah memberikan “hadiah besar” kepada Amerika Serikat yang berkaitan dengan Selat Hormuz, meskipun ia tidak menjelaskan secara rinci maksud pernyataan tersebut.

Macron Desak Iran Negosiasi

Di sisi lain, Presiden Prancis Emmanuel Macron melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan mendesak Iran untuk terlibat dalam negosiasi dengan itikad baik guna meredakan konflik.

Macron menekankan pentingnya membuka kembali Selat Hormuz serta memulai jalur diplomasi untuk membahas program nuklir Iran, rudal balistik, serta aktivitas Iran di kawasan Timur Tengah.

“Iran harus terlibat dalam negosiasi dengan itikad baik untuk membuka jalan menuju deeskalasi,” kata Macron.

Meski demikian, Iran kembali menegaskan bahwa kapal-kapal dari negara yang tidak dianggap sebagai musuh masih dapat melewati Selat Hormuz selama tidak mendukung tindakan militer terhadap Iran dan mematuhi aturan keselamatan yang ditetapkan.

Situasi ini menunjukkan konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan, tetapi juga berpotensi mengganggu pasokan energi dan ekonomi global karena Selat Hormuz merupakan jalur minyak paling penting di dunia. (ren)