Krisis Hormuz Picu Gejolak Energi Asia, Filipina hingga Thailand Mulai Terdampak
Penutupan Selat Hormuz akibat konflik Timur Tengah mulai memicu krisis energi di Asia dan memicu demonstrasi di Filipina.

HALLONEWS.ID – Krisis energi mulai meluas di kawasan Asia setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur utama distribusi minyak dunia. Dampaknya, sejumlah negara Asia mengalami kekurangan energi hingga kenaikan harga bahan bakar.
Di Manila, Filipina, seperti dilansir Sky News, Jumat (27/3/2026), warga turun ke jalan memprotes kenaikan harga bahan bakar akibat terganggunya pasokan energi. Demonstrasi terjadi di tengah kekhawatiran krisis energi yang semakin meluas di kawasan Asia.
Menurut perkiraan U.S. Energy Information Administration, sekitar 84% minyak dan 83% gas alam cair (LNG) yang melewati Selat Hormuz pada 2024 dikirim ke pasar Asia. Empat negara seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan, menguasai sebagian besar aliran energi tersebut.
Dampak Meluas ke Banyak Negara Asia
China mencoba mengantisipasi krisis dengan melarang ekspor bahan bakar olahan dan melepaskan cadangan pupuk nasional untuk menjaga stabilitas produksi pertanian.
Sementara itu, Korea Selatan meningkatkan penggunaan pembangkit listrik tenaga nuklir hingga 80% dan melonggarkan batas kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara untuk mengatasi kekurangan energi.
Di Thailand, pemerintah mengumumkan cadangan energi hanya cukup sekitar 95 hari. Pemerintah bahkan memerintahkan pegawai negeri untuk menghemat energi, termasuk bekerja dari rumah dan mengurangi perjalanan dinas luar negeri.
Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, juga meminta penghematan listrik secara nasional sebagai langkah darurat menghadapi krisis energi.
Indonesia Juga Terdampak
Dampak krisis energi tidak hanya terkait minyak. Indonesia juga bergantung pada pasokan dari negara-negara Teluk untuk industri nikel dan pupuk.
Presiden Prabowo Subianto disebut ingin meningkatkan produksi batu bara nasional sebagai langkah menghadapi potensi krisis energi global. Pemerintah juga mempertimbangkan kebijakan pajak keuntungan tak terduga dari ekspor energi.
Penutupan Selat Hormuz kini tidak hanya menjadi konflik geopolitik, tetapi juga telah berubah menjadi krisis energi global yang berdampak langsung pada ekonomi Asia, harga energi, hingga stabilitas industri dan pangan di berbagai negara. (ren)
