Iran Ancam Serangan Lebih Dahsyat ke AS dan Israel Usai Ancaman Trump

Iran mengancam akan melancarkan serangan lebih dahsyat terhadap AS dan Israel setelah Donald Trump mengancam akan membom Iran hingga kembali ke Zaman Batu.

Kamis, 2 April 2026 - 22:42 WIB
Iran Ancam Serangan Lebih Dahsyat ke AS dan Israel Usai Ancaman Trump
Pasukan keamanan Israel dan tim penyelamat merespons lokasi serangan rudal Iran di Tel Aviv, 24 Maret 2026. Foto: Euronews for Hallonews.

HALLONEWS.ID – Iran mengancam akan melancarkan serangan militer yang lebih dahsyat terhadap Amerika Serikat dan Israel setelah Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan membom Iran hingga “kembali ke Zaman Batu”.

Ancaman tersebut memicu eskalasi konflik di Timur Tengah yang semakin memanas dan berpotensi berdampak pada ekonomi global.

Juru bicara markas besar pusat Khatam al-Anbiya Iran, Ebrahim Zolfaqari, seperti dikutip Euronews, Kamis (2/4/2026), menyatakan bahwa Teheran akan meningkatkan operasi militer dan melancarkan serangan yang lebih luas dan lebih merusak terhadap musuh-musuhnya.

Ia menegaskan Iran akan terus berperang sampai Amerika Serikat dan Israel menghadapi “penyesalan permanen dan menyerah”.

Trump Ancam Bom Iran

Ancaman Iran muncul setelah pidato Trump di Gedung Putih yang menyatakan bahwa Amerika Serikat sangat dekat mencapai tujuan militernya terhadap Iran.

Trump memperingatkan bahwa serangan akan ditingkatkan jika Iran tidak mencapai kesepakatan melalui negosiasi.

“Dalam dua hingga tiga minggu ke depan, kita akan mengembalikan mereka ke Zaman Batu,” kata Trump dalam pidatonya.

Pernyataan tersebut semakin memperburuk ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Selat Hormuz Jadi Pusat Konflik

Konflik ini juga menyoroti pentingnya Selat Hormuz yang merupakan jalur utama pengiriman minyak dunia.

Garda Revolusi Iran bersumpah akan tetap menutup jalur tersebut bagi negara yang dianggap musuh Iran, sementara Trump menjadikan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai syarat gencatan senjata.

Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, sehingga penutupannya langsung memicu lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasokan global.

Dampak Ekonomi Global

Konflik yang terus berlanjut telah memicu lonjakan harga minyak dan mengguncang pasar saham global. Banyak negara mulai merasakan dampak ekonomi, termasuk kenaikan harga bahan bakar dan inflasi.

Direktur Bank Dunia, Paschal Donohoe, menyatakan lembaga tersebut sangat khawatir terhadap dampak perang terhadap inflasi, lapangan kerja, dan ketahanan pangan global.

Dampak konflik bahkan dirasakan di berbagai negara, termasuk China yang maskapainya mulai menaikkan biaya tambahan bahan bakar, serta Malaysia yang meminta pegawai negeri bekerja dari rumah untuk menghemat energi.

Krisis energi global kini menjadi salah satu dampak terbesar dari konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel, yang tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah tetapi juga ekonomi dunia secara keseluruhan. (ren)