Kualitas Sungai Ciliwung Kian Memburuk, Limbah Domestik hingga Mikroplastik Jadi Ancaman
IPB University mengungkap kualitas Sungai Ciliwung semakin memburuk akibat limbah domestik, deterjen, dan mikroplastik.

HALLONEWS.ID – Kondisi Sungai Ciliwung dilaporkan mengalami penurunan kualitas yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pencemaran yang semakin kompleks dinilai berpotensi memperparah kerusakan lingkungan jika tidak segera ditangani secara serius.
Pakar pencemaran dan ekotoksikologi dari IPB University, Etty Riani, mengungkapkan bahwa kondisi sungai saat ini lebih buruk dibandingkan dua tahun lalu. Salah satu pemicu utamanya adalah meningkatnya jumlah penduduk yang tidak diimbangi dengan ketersediaan instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
Akibatnya, limbah rumah tangga seperti air cucian, sisa deterjen, hingga bahan organik lainnya langsung dialirkan ke sungai tanpa proses pengolahan terlebih dahulu.
“Berbagai indikator pencemaran seperti BOD, COD, nutrien, hingga zat berbahaya seperti amonia dan hidrogen sulfida sudah melampaui ambang baku mutu,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (2/4/2026).
Limbah dan Mikroplastik Perparah Pencemaran
Selain limbah domestik, tingginya kandungan deterjen dan mikroplastik turut memperparah kondisi air. Zat-zat tersebut tidak hanya mencemari, tetapi juga berdampak pada ekosistem sungai dan kesehatan masyarakat di sekitarnya.
Permasalahan semakin rumit dengan masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Kebiasaan membuang sampah ke sungai serta lemahnya pengawasan menjadi faktor yang mempercepat degradasi kualitas air.
Di sisi lain, penyempitan aliran sungai akibat padatnya permukiman di bantaran juga memperburuk kondisi. Banyak bangunan yang berdiri tidak sesuai aturan tata ruang sehingga mengganggu fungsi alami sungai.
“Ketika ruang daratan terbatas sementara jumlah penduduk terus bertambah, sungai akhirnya menjadi korban,” jelasnya.
Belajar dari Penanganan Sungai di Jepang
Sebagai perbandingan, penanganan sungai di Jepang dinilai berhasil memperbaiki kualitas lingkungan dalam waktu relatif singkat. Keberhasilan tersebut tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kedisiplinan masyarakat dan sistem pengelolaan yang konsisten.
Di Jepang, kawasan bantaran sungai dijaga ketat dan tidak diperbolehkan untuk permukiman. Area tersebut dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau atau fasilitas publik yang juga berfungsi sebagai penampung air saat debit meningkat.
Selain itu, pembangunan IPAL dilakukan secara masif, diikuti penegakan hukum yang tegas serta edukasi berkelanjutan mengenai pengelolaan sampah dengan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle).
Perlu Langkah Terpadu
Untuk mencegah kerusakan yang lebih parah dalam beberapa dekade ke depan, diperlukan langkah terpadu dari berbagai pihak. Salah satu upaya utama adalah pembangunan IPAL skala besar yang terintegrasi dan dapat menjangkau permukiman warga.
Penataan kawasan bantaran sungai juga menjadi prioritas, termasuk relokasi warga ke hunian yang lebih layak serta pengembalian fungsi sempadan sungai sebagai ruang terbuka hijau.
Di wilayah hulu, kegiatan penghijauan perlu diperkuat guna menjaga keseimbangan ekosistem. Sementara itu, di sektor industri, audit lingkungan secara berkala harus dilakukan untuk memastikan tidak ada pembuangan limbah yang melanggar aturan.
Penegakan hukum juga perlu diperkuat dengan sanksi tegas bagi pelanggar, disertai edukasi yang mendorong perubahan perilaku masyarakat.
Upaya pemulihan Sungai Ciliwung tidak dapat dilakukan secara instan. Perlu kombinasi antara pembangunan infrastruktur, kebijakan yang tegas, serta kesadaran kolektif masyarakat.
Jika langkah-langkah tersebut dijalankan secara konsisten, perbaikan kualitas sungai diperkirakan baru akan terlihat dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Tanpa itu, kondisi sungai dikhawatirkan akan terus memburuk dan menjadi beban lingkungan bagi generasi mendatang. (opy)
