Israel dan Lebanon Sepakati Gencatan Senjata, AS Ungkap 6 Poin Penting

Israel dan Lebanon menyepakati gencatan senjata 10 hari yang dimediasi Amerika Serikat, dengan enam poin utama sebagai dasar menuju negosiasi damai.

Jumat, 17 April 2026 - 10:15 WIB
Israel dan Lebanon Sepakati Gencatan Senjata, AS Ungkap 6 Poin Penting
Para pengungsi di Lebanon merayakan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon dengan turun ke jalan menyambut jeda konflik 10 hari. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.ID – Israel dan Lebanon resmi menyepakati gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump.

Gencatan senjata mulai berlaku, Kamis (16/4/2026) pada pukul 17.00 Eastern Standard Time (EST) atau waktu AS, sebagai langkah awal meredakan konflik yang sebelumnya memicu korban jiwa dan kerusakan di wilayah perbatasan kedua negara.

Departemen Luar Negeri AS mengungkap enam poin utama yang menjadi dasar kesepakatan tersebut, yang sekaligus menjadi kerangka menuju negosiasi damai lanjutan.

Adapun enam poin kesepakatan tersebut meliputi:

1. Penghentian pertempuran selama 10 hari sebagai langkah awal dan isyarat niat baik dari pihak Israel.

2. Perpanjangan gencatan senjata dimungkinkan jika terdapat kemajuan dalam negosiasi dan Lebanon mampu menunjukkan kontrol efektif atas kedaulatannya.

3. Israel tetap memiliki hak membela diri kapan saja, namun di luar itu tidak melakukan serangan selama masa gencatan senjata.

4. Lebanon wajib mengambil langkah konkret untuk menghentikan aktivitas kelompok bersenjata nonnegara, termasuk Hezbollah, agar tidak menyerang Israel.

5. Pasukan keamanan resmi Lebanon menjadi satu-satunya otoritas pertahanan, sehingga tidak ada kelompok lain yang memiliki legitimasi bersenjata.

6. Amerika Serikat akan memfasilitasi negosiasi langsung lanjutan antara Israel dan Lebanon untuk mencapai kesepakatan damai yang lebih permanen.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa gencatan senjata ini menjadi peluang untuk mendorong kesepakatan yang lebih luas.

“Kami memiliki kesempatan untuk mencapai kesepakatan perdamaian bersejarah,” ujarnya seperti dikutip Sky News

Namun, Netanyahu menegaskan bahwa pasukan Israel tetap berada di wilayah Lebanon dalam zona keamanan yang diperluas demi mencegah ancaman terhadap negaranya.

Di sisi lain, Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyepakati langkah tersebut sebagai bagian dari upaya meredakan konflik dan membuka jalur diplomasi.

Dari Washington, Donald Trump menekankan pentingnya menjaga komitmen selama masa gencatan senjata dan menyerukan penghentian kekerasan. Ia juga berharap kedua negara dapat melangkah menuju perdamaian jangka panjang.

Reaksi internasional terhadap kesepakatan ini cenderung positif. Ursula von der Leyen menyebutnya sebagai langkah penting menuju stabilitas kawasan, sementara Iran menyambut baik kesepakatan tersebut dengan catatan agar Israel menarik pasukannya dari wilayah Lebanon.

Meski demikian, laporan pelanggaran gencatan senjata masih muncul di wilayah selatan Lebanon, menunjukkan bahwa implementasi di lapangan masih menghadapi tantangan serius.

Kesepakatan ini menjadi momentum awal untuk meredakan konflik, sekaligus ujian nyata bagi komitmen semua pihak dalam mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan di Timur Tengah. (ren)