Airlangga Waspadai Dampak Konflik Timur Tengah, Ekonomi RI Tetap Tahan di Tengah Ancaman Global

Airlangga Hartarto memperingatkan dampak konflik Timur Tengah terhadap rantai pasok dan harga energi, namun menegaskan ekonomi Indonesia tetap kuat dan tumbuh positif.

Sabtu, 18 April 2026 - 5:00 WIB
Airlangga Waspadai Dampak Konflik Timur Tengah, Ekonomi RI Tetap Tahan di Tengah Ancaman Global
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyoroti dampak ketegangan geopolitik terhadap ekonomi global dan ketahanan ekonomi Indonesia. Foto: Kemenko Perekonomian for Hallonews

HALLONEWS.ID – Pemerintah mulai mewaspadai dampak serius ketegangan geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah dan jalur strategis seperti Selat Hormuz yang berpotensi mengguncang ekonomi dunia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian), Airlangga Hartarto, mengingatkan bahwa konflik di kawasan tersebut bisa berdampak langsung pada rantai pasok global hingga memicu lonjakan harga energi.

“Ketegangan geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah dan jalur strategis seperti Selat Hormuz, perlu diantisipasi karena berpotensi mengganggu rantai pasok global dan memicu kenaikan harga energi,” ujarnya dalam keynote speech pada Focus Group Discussion Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Jumat (17/4/2026).

Peringatan ini menjadi sinyal serius bahwa gejolak global tidak bisa dianggap remeh, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dunia.

Meski demikian, di tengah bayang-bayang krisis global tersebut, perekonomian Indonesia justru menunjukkan daya tahan yang kuat. Pertumbuhan ekonomi nasional tercatat mencapai 5,11 persen pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 5,3 persen pada 2026.

Stabilitas ini juga ditopang oleh inflasi yang tetap terkendali serta tingkat kepercayaan konsumen yang masih berada pada level optimistis.

Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih mampu menjaga momentum pertumbuhan di tengah tekanan eksternal yang semakin kompleks.

Pemerintah pun tidak tinggal diam. Berbagai langkah antisipatif terus diperkuat, mulai dari penguatan bauran kebijakan hingga menjaga stabilitas sektor keuangan dan energi.

Dengan kombinasi strategi tersebut, pemerintah berupaya memastikan bahwa gejolak global tidak akan menggerus fondasi ekonomi nasional.

Situasi ini menempatkan Indonesia pada posisi krusial: di satu sisi menghadapi ancaman global yang nyata, namun di sisi lain tetap menjaga stabilitas dan optimisme pertumbuhan ekonomi ke depan. (ren)