BNPB: Karhutla di Nunukan Hanguskan 3 Hektare, Risiko Meluas Tinggi
Karhutla melanda Nunukan, 3 hektare lahan terbakar. BNPB ingatkan risiko kebakaran meningkat di tengah cuaca kering dan potensi hotspot.

HALLONEWS.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda wilayah Kelurahan Mansapa, Kecamatan Nunukan Selatan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Api dilaporkan menghanguskan sekitar 3 hektare lahan dan hingga kini proses pemadaman masih berlangsung.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari menyebut tim gabungan terus berjibaku untuk mengendalikan api agar tidak meluas ke area permukiman maupun lahan lain di sekitarnya.
”Karhutla di Nunukan menghanguskan 3 hektare lahan, pemadaman masih berlangsung hingga kini,” kata Abdul Muhari, Minggu (19/4/2026).
Di tengah upaya pemadaman, BNPB mengingatkan potensi kebakaran masih mengintai sejumlah wilayah, terutama yang mulai memasuki kondisi cuaca kering. Sebelumnya, karhutla terjadi di Kota Tarakan pada Jumat, 27 Maret 2026.
Adapun kebakaran di Kalimantan Timur terjadi di Kabupaten Kutai Kartanegara pada Sabtu, 28 Maret 2026. Total 8 hektar terbakar di dua provinsi tersebut. Di Kutai Kartanegara lahan seluas 2 hektar ludes terbakar. Di Kota Tarakan sedikitnya 6 hektar lahan gambut terbakar.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam periode 20-21 April 2026, sebagian wilayah Indonesia masih berpotensi diguyur hujan sedang hingga lebat.
Namun, beberapa daerah seperti Kalimantan Utara justru cenderung lebih kering dan berisiko mengalami peningkatan titik panas (hotspot). Kondisi ini dipengaruhi masa peralihan musim atau pancaroba yang menyebabkan distribusi hujan tidak merata di berbagai wilayah.
Abdul Muhari menjelaskan, karhutla tidak hanya dipicu kondisi cuaca, tetapi juga faktor lokal seperti lahan gambut yang mengering serta aktivitas manusia, termasuk pembukaan lahan dengan cara dibakar.
“Kombinasi faktor tersebut membuat wilayah tertentu lebih rentan terhadap kebakaran, meski di saat yang sama daerah lain masih mengalami hujan,” ungkapnya.
BNPB mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, baik basah seperti banjir, maupun kering seperti karhutla.
Di wilayah rawan kebakaran, masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan jika menemukan titik api.
Sementara itu, kesiapan sarana pemadaman, patroli terpadu, serta deteksi dini hotspot perlu diperkuat untuk mempercepat respons di lapangan. (dul)
