Sebulan, 6 Penjaga Perdamaian PBB Tewas di Tengah Eskalasi Konflik

Konflik di Lebanon memanas, enam pasukan perdamaian PBB gugur termasuk empat prajurit TNI. PBB desak penghentian serangan dan soroti potensi kejahatan perang

Sabtu, 25 April 2026 - 13:45 WIB
Sebulan, 6 Penjaga Perdamaian PBB Tewas di Tengah Eskalasi Konflik
Dua personel United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) sedang berjaga di wilayah selatan negara. Dalam sebulan, 6 prajurit dilaporkan meninggal dunia di tengah konflik tersebut. Foto: Hallonews

HALLONEWS.ID – Situasi keamanan di Lebanon kembali memanas. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, sebanyak enam personel United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dilaporkan gugur akibat serangan di wilayah selatan negara tersebut.

Kabar duka terbaru datang dari prajurit TNI, Praka Rico Pramudia (31), yang meninggal dunia setelah sebelumnya mengalami luka berat akibat serangan di Lebanon selatan pada akhir Maret 2026. Ia sempat mendapatkan perawatan sebelum akhirnya dinyatakan gugur.

Secara keseluruhan, empat prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam misi perdamaian PBB menjadi korban dalam rangkaian insiden tersebut. Selain itu, dua personel militer asal Prancis juga dilaporkan tewas akibat serangan di wilayah yang sama.

Meningkatnya korban jiwa ini terjadi di tengah eskalasi konflik antara militer Israel Defense Forces dan kelompok Hezbollah yang terus memanas dalam beberapa pekan terakhir.

Pihak UNIFIL mengecam keras serangan yang menyasar pasukan penjaga perdamaian. Dalam pernyataannya, tindakan tersebut dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang apabila dilakukan secara sengaja.

Serangan yang terjadi pada akhir Maret dilaporkan menghantam markas UNIFIL di wilayah Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan.

Selain itu, insiden lain juga terjadi saat konvoi logistik pasukan perdamaian diserang di kawasan Bani Hayyan. Dalam peristiwa tersebut, sejumlah prajurit mengalami luka-luka, sementara korban jiwa terus bertambah seiring memburuknya situasi keamanan di lapangan.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, turut menyampaikan duka mendalam atas jatuhnya korban dari pasukan penjaga perdamaian, termasuk prajurit asal Indonesia.

“Kami mendesak agar serangan terhadap personel UNIFIL segera dihentikan,” katanya, Sabtu (25/04/2026).

Guterres menegaskan bahwa perlindungan terhadap pasukan perdamaian merupakan kewajiban yang harus dihormati oleh semua pihak yang terlibat konflik.

Menurutnya, insiden terbaru ini menunjukkan meningkatnya risiko yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian di tengah konflik bersenjata yang terus berlangsung.

PBB mencatat, hingga saat ini enam personel UNIFIL telah meninggal dunia dan sejumlah lainnya mengalami luka serius.

Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran akan memburuknya situasi keamanan di kawasan perbatasan Lebanon selatan.

Komunitas internasional pun diharapkan dapat mengambil langkah konkret untuk meredakan ketegangan dan memastikan keselamatan para penjaga perdamaian yang bertugas di wilayah konflik.

Di tengah situasi yang kian tidak menentu, tragedi ini menjadi pengingat bahwa misi perdamaian global masih menghadapi tantangan besar, terutama ketika konflik bersenjata terus bereskalasi tanpa titik temu.

Wakil Ketua Komisi I DPR, Sukamta, meminta PBB melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme perlindungan pasukan perdamaian dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).

Permintaan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya risiko keamanan di wilayah konflik, termasuk insiden gugurnya prajurit TNI, Praka Rico Pramudia.

“Kami mendorong PBB untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mandat dan mekanisme perlindungan pasukan UNIFIL agar sesuai dengan realitas ancaman yang berkembang di lapangan,” kata Sukamta dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu (25/04/2026). (*)