Serangan Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 6 Orang, Gencatan Senjata Kembali Terancam

Serangan Israel di Lebanon selatan menewaskan enam orang termasuk paramedis di tengah perpanjangan gencatan senjata 45 hari antara Israel dan Lebanon.

Sabtu, 16 Mei 2026 - 8:30 WIB
Serangan Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 6 Orang, Gencatan Senjata Kembali Terancam
Kondisi Lebanon Selatan yang digempur Israel di tengah perundingan gencatan senjata. Foto: X Qudnen for Hallonews

HALLONEWS.ID – Ketegangan di perbatasan Israel dan Lebanon kembali memanas setelah serangan udara Israel di wilayah Lebanon selatan dilaporkan menewaskan sedikitnya enam orang, termasuk tiga paramedis.

Insiden ini terjadi di tengah upaya perpanjangan gencatan senjata antara kedua negara yang sebelumnya dimediasi Amerika Serikat.

Menurut kantor berita pemerintah Lebanon, Sabtu (16/5/2026) serangan terjadi di sejumlah kota di distrik Tyre pada Jumat waktu setempat. Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut sedikitnya 37 orang lainnya mengalami luka-luka akibat rentetan serangan tersebut.

Pihak militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) hingga kini belum memberikan komentar resmi terkait laporan korban jiwa tersebut. Namun sebelumnya, juru bicara militer Israel berbahasa Arab telah mengeluarkan peringatan mendesak kepada warga sipil di wilayah Tyre.

Dalam unggahan di media sosial, Israel menuduh kelompok Hizbullah yang didukung Iran telah melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Peta area berwarna merah juga dibagikan sebagai zona berbahaya, disertai imbauan agar warga segera mengungsi dan menjaga jarak minimal 300 meter dari lokasi yang dianggap menjadi target operasi militer.

Situasi ini memicu kekhawatiran internasional karena Israel dan Lebanon baru saja menyepakati perpanjangan gencatan senjata selama 45 hari.

Kesepakatan tersebut diumumkan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat setelah berlangsungnya pembicaraan langsung antara kedua negara di Washington.

Perundingan itu menjadi langkah penting karena Israel dan Lebanon secara teknis masih berada dalam kondisi perang sejak berdirinya negara Israel pada 1948. Meski demikian, bentrokan bersenjata dan saling serang di wilayah perbatasan terus berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.

Kementerian Kesehatan Lebanon mengungkapkan bahwa sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 17 April lalu, sedikitnya 657 orang telah tewas akibat serangan Israel di berbagai wilayah Lebanon selatan.

Sementara itu, IDF sebelumnya mengklaim telah menyerang lebih dari 440 target Hizbullah hanya dalam sepekan terakhir. Israel menegaskan operasi militernya bertujuan menghentikan aktivitas kelompok bersenjata yang dianggap mengancam keamanan wilayah utara negara tersebut.

Meningkatnya eskalasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik Israel-Lebanon dapat kembali meluas dan mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama di tengah situasi geopolitik yang masih memanas akibat perang Gaza dan meningkatnya pengaruh kelompok militan regional.(wib)