OPEC+ Diperkirakan Naikkan Produksi Minyak Juli di Tengah Ketegangan Hormuz

OPEC+ diperkirakan kembali menaikkan produksi minyak Juli 2026 di tengah ketegangan Selat Hormuz. Tambahan pasokan global dinilai dapat menahan lonjakan harga energi dunia.

Sabtu, 23 Mei 2026 - 15:30 WIB
OPEC+ Diperkirakan Naikkan Produksi Minyak Juli di Tengah Ketegangan Hormuz
Ilustrasi kilang minyak. (Foto: dok Yes Invest for Hallonews)

HALLONEWS.ID – Aliansi produsen minyak OPEC+ diperkirakan akan kembali naikkan target produksi minyak untuk Juli 2026 meskipun ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah masih tinggi.

Dalam pertemuan yang dijadwalkan berlangsung pada 7 Juni mendatang, tujuh negara inti OPEC+ disebut kemungkinan menyetujui kenaikan produksi sekitar 188.000 barel per hari.

Keputusan tersebut diperkirakan tetap diambil walaupun distribusi minyak dari beberapa negara Teluk masih terganggu akibat konflik Iran dan ketidakstabilan di Selat Hormuz.

Sejumlah anggota utama seperti Arab Saudi, Rusia, Irak, dan Kuwait dinilai masih ingin menjaga pasokan energi global agar tetap memadai sekaligus menghindari lonjakan harga minyak yang terlalu tinggi.

Sejak April 2026, OPEC+ secara bertahap telah meningkatkan target produksi setelah sebelumnya mempertahankan pembatasan output pada kuartal pertama tahun ini.

Namun, laju kenaikan produksi mulai diperlambat sejak Mei menyusul keluarnya Uni Emirat Arab dari kelompok tersebut, yang turut mengurangi kapasitas cadangan produksi dalam aliansi.

Di tengah situasi tersebut, pasar energi global terus dibayangi kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik Iran dan ancaman terhadap jalur pelayaran strategis di Hormuz.

Meski demikian, sejumlah analis menilai produsen utama OPEC+ masih optimistis bahwa gangguan langsung terhadap arus minyak Teluk tidak akan terjadi dalam waktu dekat, sehingga peningkatan produksi tetap dianggap memungkinkan.

Dari sisi global, rencana kenaikan produksi OPEC+ berpotensi membantu menjaga stabilitas pasokan minyak dunia dan menahan kenaikan harga energi yang berlebihan.

Namun, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi faktor utama yang dapat memicu volatilitas pasar apabila konflik meluas atau distribusi minyak kembali terganggu.

Bagi Indonesia, tambahan pasokan minyak global dapat membantu meredam tekanan kenaikan harga energi impor dalam jangka pendek. Meski demikian, fluktuasi harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah tetap berisiko mempengaruhi inflasi domestik, biaya subsidi energi, serta stabilitas nilai tukar rupiah.(Hendeka Putra / Research Analyst Yes Invest)

 

 

Disclaimer
Artikel ini merupakan produk jurnalistik Hallo News yang disusun berdasarkan informasi, data, dan narasumber yang dianggap kredibel pada saat penulisan. Seluruh konten disajikan untuk tujuan informasi dan edukasi, serta bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau nasihat untuk membeli, menjual, maupun menahan instrumen investasi atau produk keuangan tertentu.

Segala keputusan yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi pembaca. Hallo News tidak bertanggung jawab atas segala bentuk keuntungan maupun kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari penggunaan informasi dalam artikel ini.