Gara-Gara Uang di Skandal Farmgate, Presiden Afrika Selatan Terancam Pemakzulan

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menghadapi ancaman pemakzulan akibat skandal “Farmgate” terkait pencurian uang tunai di peternakan pribadinya yang diduga ditutup-tutupi.

Jumat, 29 Mei 2026 - 6:02 WIB
Gara-Gara Uang di Skandal Farmgate, Presiden Afrika Selatan Terancam Pemakzulan
Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa terancam dimakzulkan akibat skandal “Farmgate” (IG Cyril Ramaphosa for Hallonews).

HALLONEWS.ID – Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa kembali diterpa badai politik setelah parlemen negara itu memulai proses penyelidikan pemakzulan terkait skandal “Farmgate” atau “Phala Phala”.

Kasus tersebut bermula dari pencurian uang tunai dalam jumlah besar di peternakan pribadi Ramaphosa pada 2020 lalu. Namun, polemik semakin membesar setelah muncul tudingan bahwa kasus tersebut sengaja ditutup-tutupi dan tidak dilaporkan secara resmi kepada aparat penegak hukum.

Parlemen Afrika Selatan dijadwalkan membentuk komite khusus untuk menyelidiki dugaan pelanggaran yang dilakukan Ramaphosa.

Langkah ini muncul setelah Mahkamah Konstitusi menyatakan keputusan parlemen pada 2022 yang menghentikan proses penyelidikan sebelumnya dianggap tidak sesuai konstitusi.

Skandal ini kali pertama diungkap mantan kepala intelijen Afrika Selatan, Arthur Fraser. Ia menuding Ramaphosa menyembunyikan pencurian uang asing dari peternakan miliknya di Phala Phala, Limpopo.

Ramaphosa membantah seluruh tuduhan tersebut. Ia menyatakan uang yang dicuri berasal dari hasil penjualan kerbau kepada pembeli asing dan bukan hasil aktivitas ilegal.

Presiden juga menegaskan dirinya tidak melakukan korupsi maupun pencucian uang.
Meski begitu, panel independen parlemen sebelumnya menyebut terdapat indikasi pelanggaran serius, termasuk dugaan penyalahgunaan jabatan serta ketidakjelasan asal-usul uang yang disimpan di properti pribadi presiden.

Situasi ini menjadi ancaman serius bagi citra Ramaphosa yang selama ini dikenal sebagai figur reformis dan pembawa agenda antikorupsi di Afrika Selatan sejak menggantikan Jacob Zuma pada 2018.

Di sisi lain, peluang pemakzulan Ramaphosa dinilai masih cukup kecil. Partai penguasa African National Congress (ANC) hingga kini masih memberikan dukungan politik kepada presiden. Untuk meloloskan pemakzulan, dibutuhkan dukungan dua pertiga anggota parlemen.

Meski demikian, tekanan publik dan oposisi terus meningkat. Skandal “Farmgate” kini menjadi salah satu ujian politik terbesar yang dihadapi Ramaphosa menjelang agenda politik penting di Afrika Selatan dalam beberapa tahun mendatang. (wib)