Lucky Bayu: IHSG Bear Market dan Rupiah Rp18.133, Krisis Kepercayaan Jadi Ujian Ekonomi Nasional
Ekonom Lucky Bayu Purnomo menilai anjloknya IHSG dan pelemahan rupiah dipicu krisis kepercayaan investor. Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat

HALLONEWS.ID – Gejolak pasar keuangan Indonesia memasuki fase yang semakin berat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) resmi masuk ke area bear market, sementara nilai tukar rupiah menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di Rp18.133 per dolar Amerika Serikat (AS).
Ekonom, pakar pasar modal, sekaligus Founder LBP Enterprises, Lucky Bayu Purnomo, menilai kondisi tersebut merupakan kombinasi tekanan global dan domestik. Namun, menurutnya, gejolak yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar dan krisis kepercayaan investor dibandingkan pelemahan fundamental ekonomi nasional.
“IHSG sedang mengalami koreksi tajam akibat tekanan sentimen dan likuiditas, bukan karena fundamental ekonomi Indonesia runtuh,” ujar Lucky kepada Hallonews, Selasa (9/6/2026).
Data perdagangan menunjukkan IHSG ditutup di level 5.342 pada 8 Juni 2026 atau turun 4,52 persen dalam sehari. Dalam sepekan, indeks terkoreksi 12,8 persen dan telah melemah sekitar 38 persen dari posisi tertingginya tahun ini.
Pada saat yang sama, rupiah juga mengalami tekanan hingga menyentuh Rp18.133 per dolar AS. Kondisi tersebut terjadi di tengah inflasi tahunan Mei 2026 yang mencapai 3,08 persen serta kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi 5,25 persen.
Menurut Lucky, tekanan berasal dari sejumlah faktor global, mulai dari kebijakan suku bunga tinggi Bank Sentral AS, penguatan dolar AS, rebalancing indeks global MSCI dan FTSE, hingga tingginya harga minyak dunia.
Sementara dari dalam negeri, pelemahan rupiah, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, termasuk skema pendanaan proyek strategis pemerintah, serta menurunnya kepercayaan investor menjadi faktor utama yang memperburuk sentimen pasar.
Investor Asing Pilih Keluar
Lucky mengungkapkan aksi jual investor asing turut memperdalam koreksi pasar modal Indonesia.
Sepanjang tahun berjalan, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih saham lebih dari Rp53 triliun. Selain itu, arus modal keluar dari pasar obligasi negara mencapai sekitar Rp14 triliun.
Menurutnya, investor global saat ini cenderung mengambil sikap konservatif sambil menunggu kepastian arah kebijakan ekonomi nasional.
Meski demikian, Indonesia masih memiliki daya tarik investasi jangka panjang berkat bonus demografi, pasar domestik yang besar, serta agenda hilirisasi industri yang terus berjalan.
“Investor masih melihat Indonesia sebagai pasar potensial. Yang mereka tunggu adalah stabilitas rupiah dan kepastian regulasi,” katanya.
Rupiah Jadi Penentu Arah IHSG
Lucky menilai nilai tukar rupiah menjadi faktor paling menentukan bagi pergerakan IHSG dalam jangka pendek.
Pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor, memicu tekanan inflasi, dan memperbesar risiko kerugian kurs bagi investor asing.
Karena itu, selama rupiah belum mampu kembali stabil di bawah level Rp18.000 per dolar AS, penguatan IHSG diperkirakan sulit berlangsung secara berkelanjutan.
Bahkan, jika tekanan global semakin meningkat, rupiah berpotensi menguji level Rp19.000 per dolar AS.
Fundamental Emiten Masih Solid
Di tengah tekanan pasar, Lucky menegaskan fundamental sejumlah emiten besar Indonesia masih relatif kuat.
“Sektor perbankan nasional, termasuk emiten berkapitalisasi besar, masih mencatatkan kinerja keuangan yang baik sepanjang kuartal pertama 2026,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa yang terjadi saat ini lebih merupakan market rout akibat sentimen negatif dan krisis kepercayaan dibandingkan pelemahan fundamental korporasi.
Waspadai Ancaman Stagflasi
Lucky mengingatkan bahwa risiko ekonomi terbesar dalam enam hingga 12 bulan mendatang adalah potensi stagflasi, yakni perlambatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi bersamaan dengan kenaikan inflasi.
“Risiko yang perlu diwaspadai antara lain pelemahan rupiah hingga Rp19.000 per dolar AS, meningkatnya kredit bermasalah akibat utang valas, serta berkurangnya likuiditas pasar karena investor ritel memilih keluar,” katanya.
Selain itu, tekanan terhadap sektor riil mulai terlihat. Dunia usaha berpotensi menunda ekspansi apabila kondisi pasar keuangan tidak segera membaik.
Sektor yang Masih Menarik
Di tengah tingginya volatilitas pasar, Lucky menilai sektor defensif masih memiliki prospek yang cukup baik.
Sektor barang konsumsi, perusahaan berorientasi ekspor, komoditas seperti batu bara dan CPO, serta saham dengan dividen tinggi dinilai masih menarik untuk investasi jangka panjang.
Pesan untuk Investor
Bagi investor ritel, Lucky mengimbau agar tidak mengambil keputusan secara emosional di tengah kondisi pasar yang bergejolak.
Ia menyarankan strategi wait and see sembari melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham yang memiliki fundamental kuat.
“Hindari panic selling. Koreksi pasar saat ini lebih dipicu sentimen dibanding kerusakan fundamental ekonomi. Ketika stabilitas dan kepercayaan kembali, peluang pemulihan akan terbuka,” ujarnya.
Lucky menambahkan, pemulihan pasar sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah, memperkuat koordinasi kebijakan, serta menghadirkan kepastian regulasi guna mengembalikan kepercayaan investor terhadap Indonesia.
(agn)
