Awal Musim Kemarau, 1.650 Warga Kabupaten Bekasi Alami Krisis Air Bersih
Musim kemarau 2026 mulai memicu kekeringan di Kabupaten Bekasi. Sebanyak 1.650 warga terdampak krisis air bersih dan BPBD mengingatkan potensi meluas saat puncak kemarau.

HALLONEWS.ID – Musim kemarau 2026 baru saja dimulai, namun dampaknya sudah dirasakan warga di Kabupaten Bekasi. Sedikitnya 1.650 jiwa dilaporkan mengalami kesulitan air bersih akibat kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di bagian selatan daerah tersebut.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi menunjukkan bahwa hingga pertengahan Juni 2026, kekeringan telah berdampak pada 641 kepala keluarga yang tersebar di tujuh titik di Kecamatan Serang Baru dan Cibarusah.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi, Muchlis, mengatakan bahwa tiga lokasi terdampak berada di Kampung Nagasari, Kecamatan Serang Baru, sedangkan empat titik lainnya berada di Kampung Ridogalih, Kecamatan Cibarusah.
“Sebagai langkah penanganan darurat, kami telah menyalurkan sedikitnya 50.000 liter air bersih kepada warga yang mengalami krisis air,” kata Muchlis kepada HALLONEWS.ID, Rabu (17/6/2026).
Distribusi bantuan dilakukan bersamaan dengan koordinasi bersama aparat setempat untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi. BPBD mengingatkan masyarakat agar mulai menyiapkan sarana penampungan air sebagai antisipasi jika kondisi kekeringan semakin meluas.
Menurut Muchlis, curah hujan yang berada di bawah normal dan meningkatnya suhu udara berpotensi memperburuk kondisi pada puncak musim kemarau. Selain berdampak pada kebutuhan rumah tangga, kekeringan juga dikhawatirkan mengganggu sektor pertanian.
Pemerintah Kabupaten Bekasi pun meminta pemerintah desa dan kecamatan segera mengajukan permohonan bantuan apabila mengalami kesulitan air bersih.
“Pengajuan tersebut harus dilengkapi data lokasi, jumlah warga terdampak, hingga titik koordinat agar distribusi bantuan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran,” ungkapnya.
BPBD juga mendorong desa-desa rawan kekeringan menyiapkan toren, bak penampungan, maupun bak terpal di lokasi yang mudah dijangkau mobil tangki air sehingga proses penyaluran bantuan lebih efektif.
Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan bahwa kekeringan yang mulai terjadi di Bekasi saat ini merupakan dampak langsung musim kemarau, bukan akibat fenomena El Nino.
Menurut BMKG, hingga dasarian pertama Juni 2026, El Nino belum memberikan pengaruh signifikan terhadap wilayah Bekasi dan sekitarnya. Dampaknya diperkirakan baru akan terasa pada periode berikutnya apabila intensitasnya meningkat.
BMKG juga mencatat sekitar 39 persen wilayah Jawa Barat telah memasuki musim kemarau, termasuk Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Karawang, Depok, Indramayu, Cirebon, dan sejumlah daerah lainnya.
Ancaman kekeringan tahun ini menjadi perhatian serius karena berkaca pada kondisi 2024. Saat itu, sebanyak 43 desa di 11 kecamatan di Kabupaten Bekasi terdampak kekeringan dengan lebih dari 108 ribu warga mengalami krisis air bersih.
Luas lahan pertanian yang terdampak mencapai sekitar 19.459 hektare dan BPBD harus menyalurkan lebih dari 3,4 juta liter air bersih.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi, menyebut wilayah selatan seperti Bojongmangu, Serang Baru, Cibarusah, dan sebagian Cikarang Pusat masih menjadi kawasan paling rentan mengalami kekeringan.
BPBD memperkirakan puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada Juli hingga September. Karena itu, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah antisipasi sejak dini guna mengurangi risiko krisis air bersih yang lebih luas. (dul)
