BMKG Peringatkan Dampak Siklon Tropis BAVI, Gelombang Panas Ekstrem Berpotensi Tingkatkan Risiko Cuaca di Indonesia
BMKG memperingatkan dampak tidak langsung Siklon Tropis BAVI berupa angin kencang dan gelombang tinggi di sejumlah wilayah Indonesia. Di saat yang sama, gelombang panas ekstrem di Eropa menjadi pengingat meningkatnya risiko cuaca akibat perubahan iklim

HALLONEWS.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak tidak langsung Siklon Tropis BAVI yang berpotensi memicu angin kencang, gelombang tinggi, serta cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia.
Dalam rilis BMKG pada Selasa (7/7/2026), dijelaskan bahwa Siklon Tropis BAVI berkembang dari Bibit Siklon Tropis 95W dan mencapai intensitas siklon tropis pada 2 Juli 2026 pukul 07.00 WIB.
Sistem tersebut mulai memasuki wilayah pemantauan Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta pada 7 Juli 2026 pukul 07.00 WIB.
Saat ini, pusat siklon berada di Laut Filipina, sebelah utara Papua. Meski tidak berdampak langsung ke daratan Indonesia, keberadaannya memengaruhi kondisi cuaca di sejumlah wilayah.
BMKG memprakirakan dampak tidak langsung berupa angin kencang berpotensi terjadi di Sulawesi Utara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, dan Papua Barat.
Selain itu, tinggi gelombang laut berkisar 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di Laut Maluku, Perairan Kepulauan Sangihe hingga Kepulauan Talaud, serta Samudra Pasifik utara Papua.
Sementara itu, gelombang lebih tinggi, yakni 2,5 hingga 4 meter, diperkirakan terjadi di Samudra Pasifik utara Maluku hingga Papua Barat Daya.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya nelayan, operator pelayaran, dan warga yang beraktivitas di wilayah pesisir, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi yang dapat membahayakan keselamatan.
Di sisi lain, fenomena gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa juga menjadi perhatian.
Suhu udara yang memecahkan rekor di berbagai wilayah disebut sebagai dampak interaksi berbagai faktor atmosfer yang diperparah oleh perubahan iklim.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa gelombang panas di Eropa dipicu oleh interaksi pemanasan daratan pada musim panas dengan perambatan gelombang Rossby di atmosfer lintang menengah.
“Fenomena ini merupakan hasil interaksi antara pemanasan daratan yang luas pada musim panas dengan perambatan gelombang Rossby di atmosfer lintang menengah, di mana Eropa berada pada zona wilayah ini,” ujar Sonni.
Selain dipengaruhi gelombang Rossby, kondisi tersebut juga diperkuat oleh fenomena Omega Block, yaitu pola tekanan tinggi yang menyebabkan udara panas terperangkap dalam waktu lama sehingga suhu terus meningkat.
Gelombang panas yang terjadi di Eropa dilaporkan telah menyebabkan sekitar 1.300 korban jiwa, dengan sebagian besar korban merupakan kelompok lanjut usia yang rentan terhadap paparan suhu ekstrem.
BMKG menegaskan bahwa Indonesia memang berpotensi mengalami peningkatan suhu udara akibat perubahan iklim global.
Namun, karakteristiknya berbeda dengan gelombang panas di Eropa karena Indonesia berada di wilayah tropis sehingga mekanisme pembentukan cuaca ekstrem tidak sama dengan negara-negara di lintang menengah. (opy)
