Anak Kuli Bangunan Jadi Lulusan Terbaik Akpol 2026, Kisah Adnan Menepis Batas Kemiskinan

Putra kuli bangunan asal Bangka Belitung, Adnan Kasweri, meraih predikat Ati Trengginas di Akpol 2026. Kisahnya menjadi bukti kerja keras dan kesempatan setara.

Sabtu, 11 Juli 2026 - 6:50 WIB
Anak Kuli Bangunan Jadi Lulusan Terbaik Akpol 2026, Kisah Adnan Menepis Batas Kemiskinan
Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo memberikan ucapan selamat kepada Adnan Kasweri, putra seorang kuli bangunan asal Bangka Belitung, menerima predikat Ati Trengginas pada Penutupan Pendidikan Taruna Akpol Angkatan ke-58 di Semarang. Dok. Humas Polri for Hallonews

HALLONEWS.ID – Di antara ratusan taruna yang berdiri tegap di Lapangan Bhayangkara Akademi Kepolisian (Akpol), Semarang, Jumat (10/7/2026), nama Adnan Kasweri dipanggil sebagai salah satu yang terbaik.

Tepuk tangan menggema ketika ia menerima predikat Ati Trengginas, penghargaan bagi taruna dengan ketangguhan fisik dan mental terbaik.

Namun, pencapaian itu bukan sekadar soal nilai jasmani dan kesehatan yang mencapai 93,64. Di balik seragam kebanggaan yang dikenakannya, tersimpan perjalanan panjang seorang anak dari keluarga sederhana yang membuktikan bahwa cita-cita tidak ditentukan oleh keadaan ekonomi.

Adnan adalah putra Sudaryo, seorang kuli bangunan asal Bangka Belitung. Selama bertahun-tahun, sang ayah mengandalkan tenaga dan keringatnya di proyek-proyek bangunan demi menghidupi keluarga. Dari hasil kerja itulah tumbuh harapan agar anaknya dapat meraih masa depan yang lebih baik.

Harapan itu akhirnya terwujud ketika Adnan berhasil lolos seleksi Akademi Kepolisian pada 2023 melalui tahapan yang dimulai dari panitia daerah Polda Kepulauan Bangka Belitung hingga panitia pusat yang diselenggarakan SSDM Polri.

Bagi Sudaryo, perjalanan tersebut menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Ia mengaku menyaksikan sendiri setiap tahapan yang dilalui putranya dan semakin yakin bahwa proses rekrutmen Polri berjalan secara bersih, transparan, akuntabel, dan humanis.

“Saya mengikuti proses anak saya dari awal sampai akhir. Walaupun dengan segala keterbatasan, saya yakin proses rekrutmen ini benar-benar asli dan murni. Itulah yang saya rasakan,” ujarnya.

Meski kini berdiri sebagai salah satu lulusan terbaik, Adnan mengakui pernah dihantui rasa minder.

Profesi ayahnya sebagai buruh harian sempat membuatnya merasa tidak percaya diri ketika bersaing dengan peserta lain.

Perasaan itu perlahan hilang setelah mendapat motivasi dari para pimpinan Polri saat mengikuti proses seleksi.

Pesan yang diterimanya sederhana, namun membekas hingga kini: jangan pernah merasa rendah diri karena pekerjaan orang tua.

“Saya sempat minder karena orang tua saya buruh harian. Tapi saya diberi semangat agar tidak minder dan diminta menunjukkan kemampuan yang saya miliki. Saya hobi bermain bola voli, dan saat itu saya menunjukkan kemampuan saya,” kenang Adnan.

Sejak saat itu, ia memilih fokus membuktikan kemampuannya melalui prestasi, disiplin, dan kerja keras.

Empat tahun menjalani pendidikan di Akpol menjadi perjalanan yang mengasah fisik, mental, dan kepemimpinannya hingga akhirnya dinobatkan sebagai peraih predikat Ati Trengginas.

Upacara Penutupan Pendidikan Taruna Akpol Angkatan ke-58/Batalyon Ksatriya Hawin Sarwahita dipimpin Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo di Lapangan Bhayangkara, Akademi Kepolisian, Semarang.

Sebanyak 282 calon perwira remaja Polri resmi menyelesaikan pendidikan dan bersiap mengemban tugas di berbagai daerah.

Di tengah prosesi yang sarat makna tersebut, kisah Adnan menjadi pengingat bahwa kesempatan dapat hadir bagi siapa saja yang mau berjuang.

Latar belakang ekonomi bukan lagi tembok yang menghalangi seseorang untuk menggapai cita-cita.

Bagi Sudaryo, kebanggaan terbesar bukan hanya melihat putranya mengenakan seragam perwira, tetapi menyaksikan bahwa kerja keras, kejujuran, dan keyakinan mampu mengubah masa depan keluarganya.

Kisah Adnan pun menjadi simbol bahwa kesempatan yang setara bukan sekadar slogan.

Melalui sistem rekrutmen yang mengedepankan prinsip Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis (BETAH), pintu pengabdian terbuka bagi setiap putra-putri bangsa yang memiliki kemampuan, integritas, dan tekad untuk mengabdi kepada negara. (min)