Perkuat Ketahanan Pangan, IPB dan BI Kembangkan Ekosistem Beras Berbasis Ponpes
Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Islam (CI-BEST) IPB University bersama Bank Indonesia mengembangkan ekosistem beras berbasis pondok pesantren (ponpes) sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung pengendalian inflasi di Kabupaten Lamongan dan Jombang, Jawa Timur

HALLONEWS ID – Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Islam (CI-BEST) IPB University bersama Bank Indonesia (BI) mengembangkan ekosistem beras berbasis pondok pesantren (ponpes) sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung pengendalian inflasi di Kabupaten Lamongan dan Jombang, Jawa Timur.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui Program Kemandirian Ekonomi Pesantren Berbasis Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang melibatkan pemerintah daerah, pondok pesantren, petani, koperasi, dan berbagai pemangku kepentingan dalam membangun rantai pasok beras yang lebih efisien.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Forum Sinergi dan Diskusi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Lamongan di Pondok Pesantren Sunan Drajat, kemudian dilanjutkan di Pondok Pesantren Fathul Ulum, Kabupaten Jombang.
Dalam forum di Lamongan, para peserta membahas penguatan rantai pasok beras dari sektor hulu hingga hilir.
Perwakilan Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia, Yason Taufik Akbar, menjelaskan bahwa program ini bertujuan memangkas rantai distribusi pangan yang selama ini terlalu panjang.
“Jalur perdagangan pangan kita sering kali melewati lima hingga enam titik yang membuat harga di tingkat konsumen melambung. Melalui program ini, kita memotong rantai tersebut agar jalur distribusi menjadi efisien, langsung dari petani, diproses di rice milling unit (RMU) ponpes, dan diserap oleh ponpes serta BUMD,” ujarnya kepada wartawan media ini Selasa (21/7/2026).
Selain itu, Bank Indonesia juga mendorong penerapan sistem contract farming serta pemanfaatan dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) produktif sebagai alternatif pembiayaan bagi petani binaan.
Direktur Riset Ponpes Sunan Drajat, Didik, menyampaikan bahwa pesantrennya telah memiliki ekosistem usaha yang berkembang.
Saat ini, jaringan Toserba milik pesantren telah mengoperasikan sekitar 100 gerai ritel dan tengah bersiap melakukan ekspansi ke Sidoarjo.
Ponpes tersebut juga mengembangkan usaha peternakan ayam pedaging dengan kapasitas mencapai 600 ribu ekor.
Forum di Lamongan turut menjadi wadah bagi petani Desa Canggah untuk menyampaikan berbagai kendala budidaya padi, seperti keterbatasan air, serangan tikus dan wereng, serta persoalan pemupukan.
Menanggapi hal tersebut, tim ahli budidaya IPB University menyiapkan pendampingan melalui penerapan teknologi bioimunisasi, rekomendasi varietas padi adaptif, pemasangan automatic weather station (AWS), analisis kandungan tanah, hingga pengembangan lahan percontohan seluas tiga hektare bersama gabungan kelompok tani (Gapoktan).
Program kemudian diperluas ke Kabupaten Jombang melalui kemitraan dengan Pondok Pesantren Fathul Ulum.
Di daerah ini, pengembangan difokuskan pada penyusunan model kerja sama antara pondok pesantren dan Gapoktan Desa Sugihwaras yang diharapkan dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia.
“Melalui uji coba ekosistem beras di Jombang ini, kita sedang bergerak menuju pembentukan model penguatan pangan berbasis pesantren yang siap direplikasi secara luas di berbagai wilayah Indonesia,” kata Yason.
Dalam kegiatan tersebut, IPB University juga memperkenalkan tiga varietas unggul padi, yakni IPB 9G, IPB 13S, dan IPB 15S.
Koordinator Budidaya IPB University, Dr. Ahmad Junaedi, menjelaskan bahwa berbagai infrastruktur pendukung seperti vertical dryer dan AWS telah disiapkan untuk menunjang produktivitas budidaya.
Sementara itu, Ketua Koperasi yang menaungi petani, Gus Zahir, mengungkapkan bahwa varietas IPB 9G menunjukkan hasil yang menjanjikan.
“Panen padi varietas IPB 9G musim tanam pertama rata-rata mencapai 6,3 ton per hektare. Untuk musim tanam kedua diperkirakan akan dipanen pada akhir Juli 2026,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, kegiatan di Jombang ditutup dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara para petani dan Botani Seed mengenai penyerapan hasil panen varietas IPB 9G selama satu tahun.
Melalui kolaborasi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, pondok pesantren, BUMD, koperasi, dan kelompok tani, IPB University berharap model ekosistem beras berbasis pesantren ini mampu menciptakan rantai pasok yang lebih efisien, memberikan kepastian pasar dan harga bagi petani, mendukung pengendalian inflasi pangan, serta menjadi model ketahanan pangan nasional yang dapat diterapkan di berbagai daerah. (opy)
