Airlangga: AS Jadi Mesin Surplus Indonesia, Ekspor RI Melesat 70 Bulan Berturut-turut
Airlangga Hartarto sebut Amerika Serikat jadi mesin surplus perdagangan Indonesia, didorong ekspor manufaktur dan penurunan tarif.

HALLONEWS.ID – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa Amerika Serikat (AS) menjadi “mesin utama” yang mendorong surplus perdagangan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam forum Focus Group Discussion (FGD) di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Rabu (15/4/2026), Airlangga menyebut kontribusi AS sangat dominan dalam menjaga neraca dagang tetap positif.
Airlangga mengungkapkan, Indonesia mencatat surplus perdagangan selama 70 bulan berturut-turut, dengan AS sebagai penyumbang terbesar.
“Neraca dagang positif tertinggi kita itu dengan Amerika,” tegasnya.
Menurutnya, karakter pasar AS yang menyerap produk manufaktur Indonesia menjadi pembeda dibanding negara lain.
Komoditas utama yang diekspor ke AS meliputi minyak sawit, elektronik, tekstil dan produk garmen, sepatu, serta furnitur.
Tarif Turun, Ekspor Makin Ngebut
Pemerintah juga mencatat kemajuan signifikan dalam negosiasi perdagangan dengan AS.
Beberapa capaian penting yautu tarif turun dari 32% menjadi sekitar 19%, peluang tarif 0% untuk 1.819 produk unggulan, dan penguatan industri padat karya.
Kebijakan ini berdampak langsung terhadap sekitar 5 juta tenaga kerja di sektor industri.
Di tengah tekanan global, Airlangga menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, ditopang oleh inflasi terkendali, pertumbuhan kredit stabil, dan peningkatan simpanan perbankan.
Selain itu, indikator sosial juga membaik seperti kemiskinan turun menjadi 8,25%, pengangguran menurun, dan 2,71 juta lapangan kerja tercipta sepanjang 2025.
Indonesia Makin Diperhitungkan Dunia
Airlangga menilai posisi Indonesia semakin strategis di kancah global. Keikutsertaan aktif dalam berbagai forum seperti G20, BRICS, dan ASEAN, membuat Indonesia memiliki daya tawar tinggi dalam negosiasi perdagangan internasional.
“Indonesia sekarang menjadi prioritas dalam berbagai perundingan global,” ujarnya.
Meski menjadi mitra utama, hubungan dagang dengan AS juga menghadapi tantangan. Pemerintah AS tengah melakukan investigasi Section 301 terkait dugaan dumping, kelebihan kapasitas produksi, dan isu tenaga kerja.
Indonesia termasuk negara yang masuk dalam proses tersebut. Pemerintah Indonesia telah menyiapkan respons resmi dan akan melanjutkan konsultasi dengan United States Trade Representative (USTR) pada Mei 2026 mendatang.
Airlangga menegaskan bahwa diplomasi perdagangan menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus menghadapi tekanan global.
Indonesia saat ini aktif memperluas kerja sama dengan berbagai negara dan kawasan, termasuk Asia, Eropa, hingga Amerika Latin.
Di dalam negeri, pemerintah mengandalkan program prioritas Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Program seperti Makan Bergizi Gratis, dan Koperasi Merah Putih, diharapkan mampu meningkatkan daya beli masyarakat serta memperkuat ekonomi daerah. (ren)
