BI Berpotensi Naikkan Suku Bunga hingga 50 Bps, Rupiah dan Harga Minyak Jadi Sorotan
Bank Indonesia diperkirakan berpotensi menaikkan BI-Rate hingga 50 bps pada Juni 2026 di tengah tekanan rupiah, lonjakan harga minyak dunia, dan penguatan dolar AS akibat tensi geopolitik global.

HALLONEWS.ID – Bank Indonesia diperkirakan memiliki peluang untuk kembali menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) pada Juni 2026 mendatang di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terus melemah.
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya menjaga stabilitas mata uang domestik di tengah kombinasi sentimen global yang semakin berat, mulai dari penguatan dolar AS, lonjakan harga minyak dunia, hingga meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan kenaikan BI-Rate berpotensi berada di kisaran 25 hingga 50 basis poin. Menurutnya, langkah tersebut menjadi opsi realistis untuk meredam tekanan pada rupiah yang sempat bergerak di atas Rp17.600 per dolar AS di pasar offshore.
Tekanan terhadap rupiah dinilai semakin besar setelah Iran menggelar latihan perang berskala besar di kawasan Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran pasar global terhadap gangguan pasokan energi dunia. Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah melonjak tajam, dengan minyak WTI berada di kisaran US$105 per barel dan Brent menembus US$109 per barel.
Di sisi lain, inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi juga memperkuat ekspektasi bahwa The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama sepanjang tahun ini. Situasi tersebut membuat indeks dolar AS terus menguat dan memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Faktor domestik turut memperberat kondisi karena Indonesia masih memiliki ketergantungan besar terhadap impor minyak mentah. Sebagian besar impor tersebut digunakan untuk kebutuhan subsidi BBM nasional, sehingga kenaikan harga energi global berpotensi memperbesar kebutuhan dolar AS sekaligus meningkatkan tekanan terhadap anggaran pemerintah.
Meski kenaikan suku bunga dinilai dapat membantu menjaga stabilitas rupiah, langkah tersebut tetap menjadi dilema bagi Bank Indonesia karena berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi domestik.
Bank sentral sendiri saat ini masih aktif melakukan intervensi di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak melemah lebih dalam.
Apabila tekanan global dan ketegangan geopolitik terus berlanjut, pasar memperkirakan rupiah masih berpotensi menghadapi tekanan dalam beberapa waktu ke depan.
Kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa tekanan eksternal terhadap Indonesia sedang meningkat secara bersamaan, mulai dari geopolitik, penguatan dolar AS, hingga kenaikan harga energi global.
Apabila BI benar-benar menaikkan suku bunga hingga 50 basis poin, langkah tersebut kemungkinan besar lebih difokuskan untuk menjaga stabilitas rupiah dan mempertahankan kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia.
Namun di sisi lain, kenaikan suku bunga juga berpotensi memberikan tekanan terhadap sektor-sektor yang sensitif terhadap bunga seperti properti, consumer discretionary, dan saham growth. Sebaliknya, sektor berbasis komoditas, energi, serta saham defensif dinilai relatif lebih resilient dalam kondisi market seperti saat ini.
Investor perlu lebih berhati-hati menghadapi market yang sedang berada dalam fase “high uncertainty”, terutama karena arah pasar global masih sangat dipengaruhi perkembangan inflasi AS, kebijakan The Fed, dan situasi geopolitik Timur Tengah. (Yesaya Christofer/CEO Yes Invest)
Disclaimer
Artikel ini merupakan produk jurnalistik Hallo News yang disusun berdasarkan informasi, data, dan narasumber yang dianggap kredibel pada saat penulisan. Seluruh konten disajikan untuk tujuan informasi dan edukasi, serta bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau nasihat untuk membeli, menjual, maupun menahan instrumen investasi atau produk keuangan tertentu.
Segala keputusan yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi pembaca. Hallo News tidak bertanggung jawab atas segala bentuk keuntungan maupun kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari penggunaan informasi dalam artikel ini.
