Bukan Kecap Biasa! Produk Lokal Ini Diklaim Jadi Kecap Manis Pertama di Indonesia yang Lolos Uji Klinis
Bumbu Bunda meluncurkan kecap manis yang diklaim sebagai produk pertama di Indonesia yang telah melalui uji klinis. Memiliki indeks glikemik rendah serta kandungan gula dan natrium lebih rendah, produk ini dirancang untuk mendukung pola makan sehat anak dan keluarga.

HALLONEWS.ID – Kecap manis menjadi salah satu bumbu dapur yang hampir selalu hadir di meja makan keluarga Indonesia. Namun, di balik cita rasanya yang manis dan gurih, kandungan gula pada kecap kerap menjadi perhatian, terutama bagi orang tua yang ingin menjaga pola makan anak.
Melihat kondisi tersebut, Bumbu Bunda memperkenalkan produk kecap manis yang diklaim sebagai kecap manis pertama di Indonesia yang telah melalui uji klinis.
Peluncuran produk ini dilakukan dalam acara Kids Nutrition Talks bertajuk “Menjaga Gula Harian Anak dari Hal Kecil” yang digelar di Jakarta.
Dalam kegiatan tersebut, para ahli kesehatan menyoroti pentingnya memperhatikan asupan gula dan natrium sejak usia dini. Dokter Spesialis Anak, dr. Miza Afrizal, menjelaskan bahwa kebiasaan mengonsumsi makanan dengan kadar gula dan garam tinggi secara terus-menerus dapat memberikan beban tambahan bagi organ tubuh.
Menurutnya, orang tua perlu lebih cermat memilih bahan makanan, termasuk bumbu pelengkap yang digunakan setiap hari. Produk dengan kadar gula dan natrium yang lebih rendah dapat menjadi alternatif untuk mendukung pola makan yang lebih sehat.
Senada dengan itu, Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Diana Suganda, menilai edukasi mengenai kandungan gizi makanan masih sangat dibutuhkan oleh para orang tua.
Ia menyebut banyak keluarga yang fokus pada nafsu makan anak, namun belum sepenuhnya memperhatikan kualitas nutrisi dari makanan yang dikonsumsi.
Bumbu Bunda mengklaim produknya memiliki nilai Low Glycemic Index (GI) yang telah diuji, dengan kandungan gula lebih rendah hingga 50 persen dan kadar natrium tiga kali lebih rendah dibandingkan produk sejenis pada umumnya.
Founder Bumbu Bunda, Lia Amalia, mengungkapkan bahwa ide pengembangan produk tersebut berawal dari pengalaman pribadi saat menghadapi fase Gerakan Tutup Mulut (GTM) pada anaknya. Saat itu, ia mencari cara agar anak tetap mau makan tanpa harus mengandalkan produk dengan kadar gula tinggi.
“Dari pengalaman itu saya mulai mencari formulasi yang tetap lezat tetapi memiliki kandungan gula dan garam yang lebih rendah. Proses pengembangannya memakan waktu cukup panjang karena kami ingin memastikan keamanan dan kualitas gizinya,” ujarnya.
Lia menambahkan bahwa setiap produk yang dikembangkan menjalani pengujian laboratorium serta mendapatkan masukan dari tenaga ahli untuk memastikan kesesuaiannya bagi kebutuhan anak dan keluarga.
Dalam kesempatan yang sama, Olivia Allan Sumargo turut berbagi pengalamannya menggunakan produk tersebut untuk putrinya. Ia mengaku awalnya ragu apakah kecap dengan kandungan gula lebih rendah tetap mampu memberikan rasa yang disukai anak.
Namun setelah mencoba, ia menilai produk tersebut tetap memiliki cita rasa yang dapat diterima anak, sekaligus memberikan rasa tenang karena telah melalui serangkaian pengujian.
Melalui peluncuran kecap manis ini, Bumbu Bunda berharap dapat menghadirkan pilihan bumbu dapur yang tidak hanya mendukung selera makan anak, tetapi juga membantu orang tua lebih memperhatikan kualitas nutrisi yang dikonsumsi keluarga setiap hari.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola makan sehat, inovasi produk pangan berbasis riset dan pengujian ilmiah diperkirakan akan semakin mendapat perhatian di masa mendatang. (srv)
