Dari Balik Jeruji, Warga Binaan Kelola Tambak Udang Modern Nusakambangan dengan Standar Profesional
Tambak udang di kawasan Pemasyarakatan Pulau Nusakambangan menerapkan sistem budidaya modern dengan pengawasan kualitas air berbasis laboratorium serta pelibatan warga binaan yang telah mendapatkan pelatihan teknis.

HALLONEWS.ID – Kawasan Pemasyarakatan Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, tidak hanya dikenal sebagai lokasi lembaga pemasyarakatan berpengamanan tinggi.
Di balik itu, kawasan ini juga mengembangkan sektor perikanan melalui tambak udang modern yang dikelola dengan sistem profesional dan terukur.
Setiap tahapan budidaya dilakukan sesuai standar operasional yang ketat untuk menjaga kualitas produksi sekaligus kesehatan udang.
Proses tersebut turut melibatkan warga binaan yang mendapatkan pembinaan dan pelatihan secara langsung dari tenaga teknis berpengalaman.
Aldi (38), warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Permisan, menjelaskan bahwa pengelolaan tambak dimulai dari proses pengambilan air laut yang berasal dari kawasan pantai sekitar Nusakambangan.
“Air laut yang digunakan sebagai media budidaya terlebih dahulu ditampung di kolam reservoir. Setelah melalui proses penyaringan dan sterilisasi, air kemudian dialirkan ke 20 kolam pembesaran yang beroperasi di lokasi ini,” kata Aldi, Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya, kualitas air menjadi faktor krusial dalam keberhasilan budidaya udang. Karena itu, pengawasan dilakukan secara rutin melalui pemeriksaan laboratorium untuk memastikan kondisi air tetap berada pada standar yang dibutuhkan.
“Hasil pemeriksaan laboratorium menjadi dasar bagi teknisi untuk menentukan perlakuan yang diperlukan, termasuk jadwal pemberian bahan pendukung agar kondisi kolam tetap stabil dan mendukung pertumbuhan udang secara optimal,” ujarnya.
Selain mengedepankan teknologi dan pengawasan kualitas, pengelolaan tambak juga menerapkan sistem kerja yang terstruktur. Puluhan warga binaan dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja dengan tugas dan tanggung jawab yang jelas, mulai dari pemeliharaan kolam, pemantauan kondisi air, hingga persiapan panen.
Aldi menuturkan, seluruh warga binaan yang terlibat terlebih dahulu mendapatkan pelatihan teknis sehingga mampu memahami dan menjalankan standar budidaya modern.
“Dengan adanya pembagian tugas yang jelas dan pendampingan dari tenaga ahli, seluruh proses budidaya dapat berjalan lebih efektif dan efisien,” tuturnya.
Ia menambahkan, model pengelolaan tambak yang diterapkan di Nusakambangan menunjukkan bahwa pembinaan kemandirian warga binaan dapat berjalan seiring dengan penerapan teknologi dan disiplin operasional.
“Ini menjadi bukti bahwa pembinaan sumber daya manusia, penerapan teknologi, dan pengembangan sektor perikanan dapat saling mendukung untuk menghasilkan budidaya yang produktif dan berkelanjutan,” pungkasnya. (fer)
