Dari Pusat Kerajaan Hindu hingga Awal Peradaban Islam, Banten Girang Simpan Jejak Sejarah
Situs Banten Girang di Kota Serang menyimpan jejak penting perjalanan sejarah Banten, mulai dari masa kerajaan Hindu hingga berkembangnya Islam.

HALLONEWS.ID – Di tengah perkembangan Kota Serang modern, terdapat sebuah kawasan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang peradaban Banten, yakni Situs Banten Girang. Kawasan yang diperkirakan telah berdiri sejak abad ke-9 Masehi atau sekitar tahun 932 M itu menyimpan berbagai peninggalan penting yang menggambarkan kehidupan masyarakat Banten sebelum lahirnya Kesultanan Banten.
Banten Girang dikenal sebagai pusat pemerintahan kerajaan Sunda di wilayah barat Pulau Jawa. Sebelum berkembangnya pengaruh Islam, kawasan ini menjadi pusat aktivitas politik, ekonomi, pertahanan, dan keagamaan masyarakat yang menganut agama Hindu. Berbagai temuan arkeologis menunjukkan bahwa wilayah tersebut pernah menjadi pusat peradaban yang maju dengan sistem pemerintahan yang tertata dan hubungan perdagangan yang cukup luas.
Memasuki awal abad ke-16, Banten Girang mengalami perubahan besar dalam perjalanan sejarahnya. Wilayah yang sebelumnya menjadi pusat kerajaan bercorak Hindu mulai menerima pengaruh Islam yang dibawa oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Berbeda dengan banyak kisah penaklukan kerajaan di Nusantara, proses masuknya Islam di Banten Girang diyakini berlangsung secara damai tanpa peperangan besar.
Pengamat Budaya Banten, Ade Fitri, menilai proses Islamisasi di Banten Girang menjadi salah satu contoh transformasi budaya yang berlangsung melalui pendekatan sosial, perdagangan, dan dakwah, bukan melalui kekuatan militer.
“Masuknya Islam di Banten Girang tidak bisa dipahami sebagai peristiwa penaklukan. Yang terjadi justru proses akulturasi budaya dan penyebaran ajaran agama yang diterima secara bertahap oleh masyarakat setempat,” kata Ade Fitri, kepada HalloNews, Senin(22/06/2026).
Menurutnya, keberhasilan penyebaran Islam saat itu tidak lepas dari peran sejumlah tokoh lokal yang membantu membuka akses menuju pusat pemerintahan Banten Girang. Dukungan dari masyarakat internal kerajaan menjadi faktor penting yang mempercepat penerimaan Islam di kawasan tersebut.
“Perubahan besar dalam sejarah biasanya terjadi karena adanya penerimaan dari masyarakat itu sendiri. Dalam konteks Banten Girang, tokoh-tokoh lokal memiliki peran strategis sebagai penghubung antara penyebar Islam dan masyarakat kerajaan,” ujarnya.
Ade Fitri menjelaskan, keberadaan Banten Girang tidak hanya penting dari sisi sejarah keagamaan, tetapi juga menunjukkan bagaimana masyarakat Banten pada masa lalu mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman tanpa menghilangkan identitas budayanya. Jejak perpaduan antara tradisi lama dan pengaruh Islam masih dapat ditemukan dalam sejumlah tradisi masyarakat Banten hingga saat ini.
Secara geografis, Banten Girang memiliki posisi yang sangat strategis. Kawasan tersebut dikelilingi oleh aliran sungai yang berfungsi sebagai jalur transportasi sekaligus benteng alami. Lokasi ini memungkinkan kerajaan mengontrol pergerakan manusia dan barang yang masuk ke wilayahnya, sekaligus memperkuat sistem pertahanan kerajaan dari ancaman luar.
Selain faktor geografis, kawasan Banten Girang juga didukung berbagai struktur penting yang menunjukkan kemajuan peradaban pada masanya. Sejumlah temuan berupa punden berundak, parit buatan, susunan batu, serta area-area yang diduga menjadi pusat aktivitas pemerintahan dan keagamaan menjadi bukti bahwa wilayah tersebut pernah menjadi pusat kekuasaan yang cukup besar di Banten.
“Banten Girang merupakan salah satu situs paling penting dalam memahami asal-usul Banten. Di tempat ini kita bisa melihat bagaimana perjalanan sejarah berlangsung dari masa Hindu, masa transisi, hingga lahirnya peradaban Islam yang kemudian berkembang menjadi Kesultanan Banten,” jelas Ade Fitri.
Lebih lanjut, Ade Fitri menyebut Banten Girang memiliki keterkaitan historis dengan perkembangan kerajaan-kerajaan besar di Tatar Sunda. Setelah runtuhnya Tarumanegara, muncul sejumlah pusat kekuasaan baru yang salah satunya berkembang di kawasan Banten Girang sebelum akhirnya pusat pemerintahan bergeser ke wilayah pesisir dan melahirkan Kesultanan Banten sebagai kekuatan baru di Nusantara.
Menurutnya, perpindahan pusat kekuasaan dari pedalaman menuju kawasan pesisir bukan hanya dipengaruhi faktor politik dan agama, tetapi juga pertumbuhan perdagangan internasional yang semakin ramai melalui jalur laut. Posisi Banten yang berada di jalur perdagangan strategis menjadikannya berkembang pesat sebagai pusat ekonomi dan penyebaran Islam.
“Ketika aktivitas perdagangan dunia semakin ramai, wilayah pesisir menjadi lebih penting. Dari situlah kemudian lahir Kesultanan Banten yang berkembang menjadi salah satu kerajaan Islam terbesar di Nusantara,” katanya.
Saat ini, Situs Banten Girang masih menjadi objek penelitian bagi para arkeolog, sejarawan, mahasiswa, hingga peneliti budaya dari berbagai daerah. Kawasan tersebut dinilai memiliki nilai ilmiah yang sangat tinggi karena menyimpan informasi penting mengenai perjalanan sejarah Banten dari masa klasik hingga masa Islam.
Selain menjadi laboratorium sejarah terbuka, situs ini juga kerap dikunjungi masyarakat umum, terutama pada akhir pekan, peringatan Maulid Nabi, serta menjelang bulan Ramadan. Banyak pengunjung datang untuk mengenal sejarah Banten lebih dekat sekaligus melihat langsung jejak peradaban yang pernah berkembang di kawasan tersebut.
Ade Fitri berharap pelestarian Situs Banten Girang terus diperkuat agar generasi muda tidak kehilangan jejak sejarah daerahnya sendiri.
“Banten Girang bukan sekadar situs arkeologi, tetapi identitas sejarah masyarakat Banten. Pelestariannya penting agar generasi mendatang memahami akar peradaban dan perjalanan panjang daerah yang mereka tinggali saat ini,” pungkasnya. (esa)
