Dari Ruang Perawatan ke Kursi Kebijakan: Kisah Dr. Ati Pramudji Hastuti Menghidupkan Semangat Kartini di Banten

Kisah inspiratif pemimpin perempuan di sektor kesehatan di Banten, Dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti, MARS, yang memimpin dengan empati dan membawa perubahan nyata bagi masyarakat.

Kamis, 9 April 2026 - 12:30 WIB
Dari Ruang Perawatan ke Kursi Kebijakan: Kisah Dr. Ati Pramudji Hastuti Menghidupkan Semangat Kartini di Banten
Dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti memimpin Dinas Kesehatan Banten dengan pendekatan empati dan pengabdian. Foto: Dinas Kesehatan Banten for Hallonews

HALLONEWS.ID – Pagi itu, hiruk-pikuk pelayanan kesehatan di Banten berjalan seperti biasa. Di balik layar sistem yang terus bergerak, ada satu sosok yang memastikan semuanya tetap terarah, Dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti.

Namun, kisahnya tidak dimulai dari ruang rapat atau meja birokrasi.

Ia memulai dari tempat paling dekat dengan denyut kehidupan: ruang pelayanan kesehatan. Dari sana, ia belajar satu hal penting, bahwa setiap kebijakan pada akhirnya harus bermuara pada manusia. Pada ibu yang melahirkan dengan harap cemas. Pada anak yang membutuhkan gizi cukup. Pada keluarga yang menggantungkan harapan pada layanan kesehatan yang layak.

Jejak Sunyi Pengabdian

Perjalanan karier Ati bukanlah lompatan instan. Ia menapaki jalan panjang, dari tenaga kesehatan di lapangan hingga dipercaya menjadi Direktur RSUD Kota Tangerang. Setiap langkah adalah proses memahami realitas, bahwa kesehatan bukan sekadar angka statistik, melainkan cerita hidup yang nyata.

Ketika akhirnya ia dipercaya memimpin Dinas Kesehatan Provinsi Banten, tanggung jawab itu tidak ia lihat sebagai puncak, melainkan perluasan pengabdian.

“Jabatan ini hanyalah alat untuk menebar manfaat,” ujar Ati kepada Hallonews.id, Kamis (9/4/2026).

Ketika Krisis Menguji Kepemimpinan

Ujian sesungguhnya datang saat pandemi COVID-19 melanda. Di masa ketika ketidakpastian menjadi keseharian, keputusan harus diambil dengan cepat, sering kali tanpa ruang untuk ragu.

Di situlah ia menyadari, tantangan terbesar bukan sekadar keterbatasan alat atau anggaran. Melainkan bagaimana menyatukan banyak kepala, banyak kepentingan, dalam satu tujuan yaitu menyelamatkan nyawa.

Koordinasi, kecepatan, dan ketegasan menjadi kunci. Namun ada satu hal yang tidak kalah penting, empati.

Empati sebagai Kekuatan

Sebagai perempuan pemimpin, Ati kerap dihadapkan pada stigma lama: perempuan terlalu emosional. Namun ia justru membalik stigma itu menjadi kekuatan.

Dalam dunia kesehatan, empati bukan kelemahan. Ia adalah fondasi. Kemampuan untuk memahami kecemasan pasien, merasakan tekanan tenaga medis, hingga membaca kebutuhan masyarakat, semuanya menjadi bagian dari kepemimpinan yang ia bangun.

“Empati membuat kebijakan lebih manusiawi,” seolah menjadi napas dalam setiap langkahnya.

Perempuan, Pilar Kesehatan Keluarga

Bagi Ati, perubahan besar dalam kesehatan masyarakat justru dimulai dari ruang-ruang kecil yaitu keluarga.

Ia percaya, perempuan adalah “menteri kesehatan” dalam rumah tangga. Dari tangan perempuan, keputusan tentang makanan, pola hidup, hingga perawatan anak ditentukan.

Karena itu, meningkatkan literasi kesehatan perempuan menjadi strategi yang ia dorong. Sebab ketika perempuan sehat dan berpengetahuan, satu keluarga, bahkan generasi, ikut terjaga.

Menghidupkan Semangat Raden Ajeng Kartini

Bagi Ati, Kartini bukan sekadar nama dalam sejarah. Ia adalah semangat yang hidup, tentang keberanian melampaui batas dan tekad untuk terus belajar.

Hari Kartini, baginya, adalah pengingat bahwa banyak batasan sebenarnya hanya ada dalam pikiran.

Semangat itu ia terjemahkan dalam kepemimpinan: membuka ruang yang setara bagi siapa pun untuk berkembang, tanpa melihat gender, melainkan kemampuan dan integritas.

Di Banten, ia menyaksikan sendiri bagaimana perempuan-perempuan kini mengisi posisi strategis di rumah sakit dan institusi kesehatan, membawa ketelitian, keteguhan, dan dedikasi.

Menyentuh yang Paling Rentan

Di balik kebijakan besar, fokus Ati tetap sederhana namun krusial: menyelamatkan kehidupan.

Penurunan angka kematian ibu dan bayi, percepatan penanganan stunting, hingga deteksi dini kanker serviks dan payudara menjadi prioritas utama.

Baginya, keberhasilan bukan sekadar laporan angka yang menurun, tetapi ketika semakin banyak ibu bisa memeluk bayinya dengan selamat, ketika anak-anak tumbuh sehat, dan ketika perempuan memiliki kesempatan untuk hidup lebih panjang dan berkualitas.

Perempuan dan Beban Ganda

Ia juga memahami realitas perempuan modern, yang harus membagi diri antara karier dan keluarga. Dalam kesibukan itu, kesehatan diri sering kali menjadi hal yang dikorbankan.
Pesannya sederhana, namun dalam: “Jangan menunggu sakit baru peduli.”

Karena menurutnya, perempuan yang sehat adalah fondasi keluarga yang kuat.

Di balik perannya sebagai pejabat publik, Ati tetap seorang ibu dan istri. Ia percaya, keseimbangan bukan soal membagi waktu secara sempurna, melainkan tentang hadir secara utuh, baik di kantor maupun di rumah.

Disiplin dan komunikasi menjadi kunci menjaga harmoni itu.

Pesan yang Tersisa

Di akhir perbincangan, satu pesan yang ia titipkan terasa begitu membumi, terutama bagi generasi muda: “Jangan takut bermimpi besar. Pendidikan adalah jalan, dan integritas adalah penunjuk arah.”

Menjadi perempuan mandiri bukan berarti meninggalkan nilai. Justru dari nilai itulah kekuatan sejati tumbuh.

Dan dari perjalanan Dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti, kita belajar satu hal: bahwa perubahan besar sering kali lahir dari kepedulian yang sederhana, untuk hadir, mendengar, dan melayani. (ren/yas)