Dedi Mulyadi Pimpin Kirab Mahkota Binokasih di Bogor dengan Menunggang Kuda Putih
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memimpin Kirab Mahkota Binokasih 2026 di Bogor dengan menunggang kuda dan dikawal tiga ajudan berkuda.

HALLONEWS.ID – Dedi Mulyadi memimpin langsung Kirab Mahkota Binokasih Sanghyang Pake di Bogor, Jumat (8/5/2026) malam. Gubernur Jawa Barat tersebut tampil menunggang kuda putih sambil mengenakan pakaian serba putih lengkap dengan ikat kepala khas Sunda.
Dalam prosesi budaya itu, Dedi Mulyadi mendapat pengawalan dari tiga ajudan yang juga menunggang kuda.
Kehadiran rombongan berkuda menarik perhatian warga yang memadati sejumlah ruas jalan untuk menyaksikan kirab budaya Sunda tersebut.
Kirab Mahkota Binokasih menjadi bagian dari rangkaian Milangkala Tatar Sunda 2026 yang digelar di berbagai wilayah bersejarah di Jawa Barat.
Prosesi kirab dimulai dari kawasan Museum Pajajaran di Batutulis, yang dikenal memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Kerajaan Pajajaran.
Dari titik awal tersebut, rombongan bergerak melintasi sejumlah ruas jalan utama di Kota Bogor dengan pengawalan ketat aparat keamanan dan Dinas Perhubungan.
Warga terlihat antusias menyambut iring-iringan kirab yang menghadirkan nuansa budaya Sunda lengkap dengan pakaian adat dan simbol-simbol kerajaan Sunda.
Rute Kirab Mahkota Binokasih di Bogor
Setelah berangkat dari Museum Pajajaran Batutulis, rombongan kirab melintasi Jalan Batutulis menuju Jalan Siliwangi.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke kawasan Bondongan dan berakhir di area pusat kota Bogor.
Sejumlah titik jalan yang dilalui kirab turut dipadati masyarakat yang ingin menyaksikan langsung prosesi budaya tersebut.
Untuk mendukung kelancaran acara, Pemerintah Kota Bogor menerapkan rekayasa lalu lintas di sejumlah ruas jalan sejak siang hari.
Arus kendaraan dari beberapa titik dialihkan sementara guna menghindari kepadatan selama kirab berlangsung.
Kirab Mahkota Binokasih tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga simbol pelestarian nilai-nilai Tatar Sunda.
Kehadiran Dedi Mulyadi dengan menunggang kuda dinilai memperkuat nuansa historis yang merepresentasikan kebesaran budaya Sunda pada masa lampau.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak kembali mengenang sejarah Sunda sekaligus menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman modern.
Sepanjang jalan sejak star di Batutulis , warga tumpah ruah dipinggir jalan menyaksikan arak-arakan rombongan pawai.
Nama KDM alias bapak Aing, sapaa. akrab Dedy Mulyadi menggema sepanjang rute yang dilalui. (opy)
