Dua Kelas SDN Kutakarang 3 Pandeglang Ambruk, 26 Siswa Terpaksa Belajar di Dapur

Dua ruang kelas SDN Kutakarang 3 di Pandeglang ambruk akibat tanah labil. Sebanyak 26 siswa terpaksa belajar di dapur

Senin, 6 April 2026 - 14:17 WIB
Dua Kelas SDN Kutakarang 3 Pandeglang Ambruk, 26 Siswa Terpaksa Belajar di Dapur
Kondisi ruang kelas SDN Kutakarang 3, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Pandeglang, yang mengalami kerusakan parah akibat pergerakan tanah, Senin (6/4/2026). Foto: Hallonews

HALLONEWS.ID – Nasib pilu dialami puluhan siswa SDN Kutakarang 3, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Pandeglang, Banten. Mereka terpaksa menjalani kegiatan belajar mengajar di ruang dapur dan perpustakaan setelah dua ruang kelas ambruk akibat pergerakan tanah.

Kondisi tersebut telah berlangsung sejak awal Februari 2026. Hingga Senin (6/4/2026), mereka masih mengalami hal yang sama.

Meski berada di ruang darurat yang sempit dan jauh dari kata layak, proses belajar mengajar tetap berjalan dengan segala keterbatasan.

Salah seorang guru, Ade, mengungkapkan bahwa sebelumnya bangunan yang roboh sempat direnovasi. Namun, kondisi tanah yang labil membuat bangunan kembali ambruk.

“Sudah dari awal Februari dipindahkan. Siswa masih belajar, tapi di perpustakaan sama dapur. Tanah di sini labil, jadi meskipun bangunannya bagus tetap bisa bergeser,” ujar Ade.

Dua ruang kelas yang roboh tersebut digunakan oleh siswa kelas 3 dan kelas 4, dengan total 26 siswa terdampak, masing-masing 10 siswa kelas 3 dan 16 siswa kelas 4.

Kini, para siswa harus belajar dalam kondisi berdesakan. Keterbatasan ruang membuat suasana belajar menjadi tidak nyaman dan kurang kondusif.

“Kurang nyaman, soalnya sempit berdesakan juga, kasihan mereka,” tambahnya.

Tak hanya dua ruang kelas yang ambruk, sejumlah bangunan lain di sekolah tersebut juga mulai menunjukkan tanda kerusakan berupa retakan. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dikhawatirkan akan semakin parah dan berdampak pada bangunan lainnya.

“Kalau dibiarkan, bisa mempengaruhi dua bangunan lainnya. Semua bangunan di sini rata-rata ada retakan,” jelas Ade.

Pihak sekolah pun berharap pemerintah segera turun tangan untuk membangun kembali ruang kelas yang layak, agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali normal.

“Harapannya bisa dibangun lagi dua kelas, supaya siswa bisa belajar seperti sebelumnya,” harapnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Pandeglang, Iing Andri Supriadi, menyatakan pihaknya akan segera menindaklanjuti kondisi tersebut dengan berkoordinasi bersama Dinas Pendidikan.

“Ini menjadi pekerjaan rumah kami. Kami akan sampaikan ke Dinas Pendidikan untuk segera ditindaklanjuti, minimal ada renovasi atau perbaikan agar tidak mengganggu proses belajar mengajar,” kata Iing.

Ia juga mengakui bahwa kondisi infrastruktur pendidikan di Pandeglang masih menjadi tantangan besar. Dari sekitar 1.000 sekolah, diperkirakan sekitar 30 persen mengalami kerusakan, baik ringan maupun berat.

“Kerusakan ini cukup signifikan. Ini menjadi PR kami bersama,” ujarnya.

Pemerintah daerah, lanjutnya, terus berupaya berkoordinasi dengan pemerintah pusat melalui program revitalisasi pendidikan guna mempercepat perbaikan infrastruktur sekolah.

“Kami fokus mendorong percepatan pembangunan pendidikan. Ini bagian dari investasi untuk mencetak generasi yang unggul ke depan,” pungkasnya. (esa)