Guru Besar IPB Ingatkan Bahaya Konsumsi Fruktosa Berlebih, Bisa Picu Asam Urat hingga Hipertensi
Guru Besar FMIPA IPB University mengingatkan konsumsi fruktosa berlebihan dapat meningkatkan risiko asam urat, hipertensi, obesitas, dan gangguan metabolisme. Masyarakat diimbau bijak mengonsumsi buah dan makanan manis

HALLONEWS.ID – Buah selama ini dikenal sebagai sumber vitamin, mineral, dan serat yang bermanfaat bagi kesehatan.
Namun, di balik rasa manisnya, buah mengandung fruktosa atau gula alami yang tetap perlu dikonsumsi secara bijak agar tidak menimbulkan dampak buruk bagi tubuh.
Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof. Antonius Suwanto, mengingatkan bahwa konsumsi fruktosa secara berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, seperti asam urat, hipertensi, obesitas, hingga gangguan metabolisme.
Fruktosa merupakan salah satu jenis gula sederhana yang banyak ditemukan pada buah-buahan, terutama yang memiliki rasa sangat manis.
Selain itu, fruktosa juga terkandung dalam gula pasir, minuman berpemanis, permen, kue, dan beragam makanan olahan.
Fruktosa Diproses Berbeda dari Glukosa
Prof. Antonius menjelaskan bahwa fruktosa, glukosa, dan sukrosa merupakan jenis gula yang umum dikonsumsi masyarakat.
Namun, mekanisme pengolahan fruktosa di dalam tubuh berbeda dibandingkan glukosa.
Menurutnya, glukosa dimanfaatkan oleh hampir seluruh sel tubuh sebagai sumber energi. Sementara itu, sebagian besar fruktosa dimetabolisme di hati melalui jalur khusus yang membuatnya lebih mudah diubah menjadi lemak.
“Glukosa digunakan oleh berbagai sel tubuh sebagai sumber energi. Sementara fruktosa, sebagian besarnya dimetabolisme di hati melalui jalur khusus yang membuatnya dapat langsung diubah menjadi lemak,” ujarnya Jumat (26/6/2026).
Proses metabolisme tersebut membutuhkan energi dalam jumlah besar yang berasal dari adenosin trifosfat (ATP).
Ketika ATP digunakan secara berlebihan, tubuh menghasilkan senyawa turunan yang pada akhirnya dikonversi menjadi asam urat.
“Kalau ada banyak fruktosa dikonsumsi, itu akan dijadikan lemak dan akhirnya akan ada produk sampingnya berupa asam urat,” jelas pakar mikrobiologi, bioteknologi, dan genetika molekuler tersebut.
Prof. Antonius menambahkan, tingginya kadar asam urat tidak hanya berkaitan dengan nyeri sendi atau gout.
Asam urat juga dapat mengurangi ketersediaan nitric oxide, senyawa yang berperan menjaga elastisitas pembuluh darah.
Akibatnya, pembuluh darah menjadi lebih kaku sehingga berpotensi meningkatkan tekanan darah dan memicu hipertensi.
Lebih lanjut, Prof. Antonius menjelaskan bahwa kemampuan tubuh mengubah fruktosa menjadi lemak pada awalnya merupakan mekanisme evolusi untuk membantu manusia bertahan hidup ketika sumber makanan masih terbatas.
Pada masa lalu, buah hanya tersedia pada musim tertentu sehingga cadangan lemak menjadi sumber energi penting saat makanan sulit diperoleh.
Namun, kondisi tersebut berbeda dengan saat ini ketika fruktosa mudah ditemukan dalam berbagai makanan dan minuman yang dikonsumsi setiap hari.
“Dengan kondisi manusia sekarang ada banyak sumber fruktosa di mana-mana. Kalau tidak mengonsumsinya dengan lebih bijaksana, yang tadinya untuk survival malah bisa menyebabkan penyakit,” katanya.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tetap mengonsumsi buah dan makanan manis secara seimbang.
Pola makan yang bijak dinilai penting untuk membantu mencegah peningkatan risiko asam urat, hipertensi, obesitas, maupun berbagai gangguan metabolisme lainnya. (opy)
