Guru Besar IPB: Limbah Hasil Perikanan Berpotensi Jadi Sumber Pangan, Obat hingga Kosmetik

Guru Besar IPB University mengungkap hasil samping perikanan seperti kepala, tulang, kulit, hingga mata tuna memiliki potensi besar menjadi pangan fungsional, produk kesehatan, kosmetik, dan penggerak ekonomi biru Indonesia.

Sabtu, 27 Juni 2026 - 16:15 WIB
Guru Besar IPB: Limbah Hasil Perikanan Berpotensi Jadi Sumber Pangan, Obat hingga Kosmetik
Limbah hasil perikanan, termasuk udang, memiliki potensi diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Foto: Humas IPB for Hallonews

HALLONEWS.ID – Hasil samping sektor perikanan yang selama ini kerap dianggap limbah ternyata menyimpan nilai ekonomi dan manfaat yang sangat besar. Jika dimanfaatkan secara optimal, bahan-bahan tersebut dapat mendukung ketahanan pangan, industri kesehatan, sekaligus memperkuat implementasi ekonomi biru di Indonesia.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof Wini Trilaksani, mengatakan pengolahan hasil samping blue food menjadi biomolekul laut bernilai tambah merupakan strategi penting untuk meningkatkan daya saing sektor perikanan nasional.

Menurutnya, secara global sekitar 35 persen hasil tangkapan ikan terbuang di sepanjang rantai pasok. Sementara itu, hanya sekitar 54 persen hasil panen perikanan yang benar-benar dimanfaatkan sebagai bahan pangan untuk konsumsi manusia.

Sisanya hilang akibat pembusukan, proses pengolahan yang belum optimal, serta minimnya pemanfaatan produk samping.

Kondisi tersebut dinilai tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi dan pencemaran lingkungan, tetapi juga mengurangi potensi pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.

Dalam Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University yang digelar pada Sabtu (27/6/2026), Prof Wini menegaskan bahwa laut menyimpan potensi yang jauh lebih besar dibanding sekadar penyedia ikan konsumsi.

“Laut tidak hanya menyediakan ikan dan pangan akuatik lainnya sebagai komoditas konsumsi, tetapi juga menyimpan biomolekul bernilai tinggi yang dapat menjadi sumber gizi, bahan baku industri, produk kesehatan, dan penggerak ekonomi biru,” ujarnya.

Prof Wini menjelaskan, berbagai bagian hasil perikanan seperti kepala, tulang, kulit, sisik, mata ikan, gelembung renang, cangkang, hingga air limbah pengolahan masih mengandung nutrisi dan senyawa bioaktif bernilai tinggi.

Komponen-komponen tersebut, seperti minyak kaya omega-3 (EPA dan DHA), kolagen, gelatin, kitin, kitosan, glukosamin, serta astaxanthin, dapat diolah menjadi pangan fungsional, suplemen kesehatan, kosmetik, produk farmasi, biomaterial, hingga berbagai produk bernilai ekonomi tinggi.

Salah satu inovasi yang dikembangkan bersama tim peneliti adalah pemanfaatan mata tuna sebagai sumber asam lemak omega-3.

Berdasarkan hasil penelitian, mata tuna berukuran besar memiliki kandungan lemak sebesar 22,21 persen, rendemen minyak 12,82 persen, DHA 37,45 persen, EPA 6,19 persen, serta total polyunsaturated fatty acids (PUFA) mencapai 48,10 persen.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa mata tuna yang selama ini kurang dimanfaatkan ternyata memiliki potensi besar sebagai bahan baku produk nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan serta perkembangan kecerdasan.

Prof Wini menegaskan, masa depan industri perikanan Indonesia tidak hanya bergantung pada besarnya produksi ikan, tetapi juga pada kemampuan mengoptimalkan seluruh bagian biomassa hasil panen agar memiliki nilai tambah.

Selain mengurangi limbah, pemanfaatan hasil samping perikanan juga dinilai mampu menekan jejak karbon melalui penggunaan sumber daya laut yang lebih efisien.

“Ekonomi biru tidak hanya dibangun dari laut yang menghasilkan komoditas, tetapi dari kemampuan ilmu pengetahuan mengubah setiap fraksi biomassa menjadi nilai,” tutupnya. (opy)