Harga Minyak Dunia Tembus $100, Serangan Iran ke Kapal Komersial Picu Ketegangan Global
Harga minyak dunia melonjak melewati $100 per barel setelah Iran menyerang kapal komersial di kawasan Teluk. Konflik Timur Tengah yang memasuki pekan ketiga memicu kekhawatiran krisis energi global.

HALLONEWS.ID – Harga minyak dunia kembali melonjak tajam dan menembus $100 per barel setelah serangkaian serangan Iran terhadap kapal komersial di kawasan Teluk memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Lonjakan harga tersebut terjadi pada Kamis (12/3/2026) di tengah meningkatnya ketegangan perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang telah berlangsung hampir tiga pekan.
Seperti dilansir Euronews, serangan terbaru Iran dinilai sebagai bagian dari strategi untuk memberikan tekanan ekonomi global agar Washington dan Tel Aviv menghentikan operasi militer mereka. Namun hingga kini, tidak ada tanda-tanda konflik akan mereda.
Selat Hormuz Hampir Lumpuh
Ketegangan di kawasan Teluk semakin memanas setelah Selat Hormuz, jalur pelayaran yang mengangkut sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, hampir sepenuhnya tertutup bagi kapal tanker minyak.
Teheran sebelumnya telah bersumpah tidak akan membiarkan ekspor minyak dari negara-negara Teluk berlangsung selama perang dengan Amerika Serikat dan Israel masih berlangsung.
Gangguan terhadap jalur vital tersebut langsung mengguncang pasar energi global.
Para analis memperingatkan bahwa harga minyak di kisaran $90 hingga $100 per barel berpotensi menjadi “normal baru” jika konflik terus berlanjut.
Serangan ke Kapal dan Infrastruktur Energi
Badan maritim Inggris United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan sebuah kapal kontainer dihantam proyektil tak dikenal di dekat Uni Emirat Arab.
Serangan tersebut menyebabkan kebakaran kecil di atas kapal, namun seluruh awak dilaporkan selamat. Selain itu, dua kapal tanker di perairan Irak juga dilaporkan terkena serangan.
Sementara itu, Bahrain melaporkan serangan terhadap tangki bahan bakar. Arab Saudi menyatakan berhasil mencegat drone yang menuju ladang minyak Shaybah
Serangkaian serangan tersebut semakin memperparah kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Cadangan Minyak Global Dilepas
Untuk menstabilkan pasar, Badan Energi Internasional mengumumkan pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis negara-negara anggotanya.
Dari jumlah tersebut, sekitar 172 juta barel berasal dari Amerika Serikat.
Namun langkah itu belum mampu menenangkan pasar karena gangguan pasokan dari kawasan Teluk dinilai jauh lebih besar dampaknya.
Iran Ancam Target Ekonomi Barat
Di tengah eskalasi konflik, Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa mereka siap menyerang target ekonomi dan finansial yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel.
Komando militer Iran bahkan menyebut konflik saat ini berpotensi berubah menjadi perang gesekan jangka panjang yang dapat mengguncang ekonomi dunia.
“Musuh telah memberi kita kebebasan untuk menargetkan pusat-pusat ekonomi dan bank milik Amerika Serikat dan rezim Zionis,” kata komando operasi militer Iran dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menuduh serangan udara AS-Israel telah menghantam sebuah bank di Iran.
Perusahaan Global Mulai Evakuasi
Ancaman tersebut membuat sejumlah perusahaan internasional mulai mengevakuasi kantor mereka dari kawasan Teluk. Beberapa di antaranya Citigroup, Deloitte, dan PwC
Perusahaan-perusahaan tersebut menutup atau memindahkan operasional dari pusat bisnis regional seperti Dubai dan negara-negara Teluk lainnya.
Serangan Balasan Terus Berlanjut
Di medan perang, militer Israel melaporkan beberapa gelombang rudal diluncurkan dari Iran pada Kamis (12/3/2026) pagi.
Sistem pertahanan udara Israel dikerahkan untuk mencegat rudal tersebut.
Sementara itu kelompok militan Hizbullah yang berbasis di Lebanon mengaku menembakkan rudal ke pangkalan intelijen militer Israel di pinggiran Tel Aviv.
Israel juga melancarkan serangan udara besar-besaran ke Teheran serta markas Hizbullah di Beirut.
Serangan di Beirut dilaporkan menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai lebih dari 20 lainnya.
Ancaman Krisis Ekonomi Global
Dengan jalur energi global terganggu dan konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, banyak analis memperingatkan dunia kini menghadapi risiko krisis energi baru.
Jika konflik terus berlanjut dan Selat Hormuz tetap terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di Timur Tengah, tetapi juga oleh ekonomi global.
Lonjakan harga minyak berpotensi memicu inflasi energi, kenaikan harga bahan bakar, hingga gangguan perdagangan internasional. (ren)
