Hari Buaya Sedunia: Pakar IPB Ungkap Perbedaan Buaya Muara dan Buaya Air Tawar di Indonesia

Pakar IPB University menjelaskan perbedaan buaya muara dan buaya air tawar dari habitat, ukuran, perilaku hingga status konservasinya dalam rangka Hari Buaya Sedunia 2026

Senin, 15 Juni 2026 - 19:40 WIB
Hari Buaya Sedunia: Pakar IPB Ungkap Perbedaan Buaya Muara dan Buaya Air Tawar di Indonesia
Hallonews/Humas IPB foto: Penampakan buaya di air.

HALLONEWS.ID – Buaya kerap dianggap sebagai satwa liar yang berbahaya dan menakutkan.

Namun, tidak semua spesies buaya memiliki karakteristik yang sama. Di Indonesia, dua jenis buaya yang paling dikenal masyarakat adalah buaya muara (Crocodylus porosus) dan buaya air tawar atau buaya siam (Crocodylus siamensis).

Dalam rangka memperingati Hari Buaya Sedunia yang jatuh setiap 17 Juni, pakar konservasi satwa liar IPB University, Prof. Burhanuddin Masyud, menjelaskan sejumlah perbedaan mendasar antara kedua spesies tersebut, mulai dari habitat, ukuran tubuh, hingga perilakunya di alam.

Menurut Prof. Burhanuddin, Indonesia termasuk negara yang memiliki keragaman jenis buaya cukup tinggi.

Hingga saat ini, sedikitnya lima spesies buaya telah teridentifikasi, meskipun beberapa ahli memperkirakan jumlahnya bisa lebih banyak.

“Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman jenis buaya yang tinggi. Setidaknya terdapat lima jenis buaya yang telah teridentifikasi, meskipun sejumlah pakar menyebut jumlahnya bisa lebih banyak,” ujarnya.

Ia menjelaskan, buaya muara umumnya menghuni wilayah sungai, muara, pesisir pantai, hingga perairan payau.

Spesies ini dikenal sebagai buaya terbesar di dunia dengan panjang tubuh dapat mencapai 5 hingga 7 meter dan berat lebih dari satu ton.

Selain memiliki moncong yang lebar dan kuat, buaya muara juga dikenal sebagai predator puncak yang sangat teritorial.

Satwa ini aktif berenang dan jantan dewasa cenderung memiliki sifat dominan serta agresif dalam mempertahankan wilayahnya.

“Buaya muara aktif berenang, jantan dewasa lebih dominan dan agresif, serta memiliki wilayah kekuasaan yang kuat,” kata Prof. Burhanuddin.

Berbeda dengan buaya muara, buaya air tawar lebih banyak ditemukan di kawasan rawa, sungai, dan danau yang tidak terpengaruh air laut. Ukuran tubuhnya relatif lebih kecil, dengan panjang rata-rata sekitar 1,5 hingga 2,5 meter.

Ciri khas lainnya terletak pada bentuk moncong yang lebih ramping menyerupai huruf “V”. Dari sisi perilaku, buaya air tawar cenderung lebih tenang dan menghindari kontak dengan manusia.

“Buaya air tawar biasanya bersifat pemalu dan lebih memilih menjauh dari manusia. Serangan umumnya terjadi jika satwa tersebut merasa terancam atau sedang mempertahankan diri,” jelasnya.

Meski memiliki karakter yang berbeda, kedua spesies tersebut sama-sama masuk dalam kategori satwa yang dilindungi di Indonesia. Namun, kondisi konservasi keduanya tidak sama.

Buaya muara saat ini berstatus least concern atau berisiko rendah menurut klasifikasi International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Sementara itu, buaya air tawar berada dalam kategori critically endangered atau kritis, yang menunjukkan risiko kepunahan sangat tinggi di alam.

Prof. Burhanuddin menegaskan bahwa peran lembaga konservasi, kebun binatang, dan penangkaran sangat penting dalam menjaga keberlangsungan populasi buaya.

Selain berfungsi sebagai cadangan plasma nutfah, program penangkaran juga dapat membantu mengurangi tekanan perburuan liar serta mendukung upaya pelepasliaran ke habitat alami.

“Keberhasilan penangkaran dapat menjadi sistem pendukung penting bagi konservasi buaya di habitat alaminya sekaligus mendukung pemanfaatan yang berkelanjutan,” pungkasnya. (opy)