IPB University Dorong Teknologi Biointensif untuk Redam Dampak Krisis Timur Tengah pada Sektor Pertanian
Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3), Ivanovic Agusta menjelaskan bahwa, gejolak geopolitik di Timur Tengah berdampak langsung pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) global, yang kemudian menekan biaya produksi pertanian

HALLONEWS.ID — IPB University menawarkan teknologi biointensif sebagai solusi strategis untuk menghadapi dampak krisis di kawasan Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi dan mengganggu sektor pertanian global.
Gagasan tersebut disampaikan dalam konferensi pers bertajuk “Adaptasi Petani Nusantara Menghadapi Dampak Perang di Timur Tengah” yang digelar di Bogor, Kamis (2/4/2026).
Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3), Ivanovic Agusta menjelaskan bahwa, gejolak geopolitik di Timur Tengah berdampak langsung pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) global, yang kemudian menekan biaya produksi pertanian.
Dekan Fakultas Pertanian IPB, Suryo Wiyono, menyoroti gangguan pada rantai pasok pupuk dunia. Ia menyebut kawasan Teluk merupakan produsen utama pupuk nitrogen global, sehingga terganggunya pasokan gas alam (LNG) berimbas pada produksi pupuk.
Indonesia sendiri masih bergantung pada impor bahan baku pupuk. Sebagian besar bahan baku fosfor berasal dari Eropa dan negara-negara Arab yang kini terdampak risiko geopolitik dan kenaikan biaya distribusi.
Krisis tersebut memicu kenaikan signifikan pada harga input pertanian. Harga pupuk nitrogen global meningkat lebih dari 30 persen, sementara pestisida diperkirakan naik hingga 30 persen.
Selain itu, kenaikan harga BBM turut meningkatkan biaya operasional, mulai dari transportasi hingga penggunaan alat mesin pertanian. Kondisi ini berdampak langsung pada penurunan margin keuntungan petani.
Di sisi lain, pasar ekspor juga terdampak. Negara-negara seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi yang selama ini menjadi tujuan ekspor utama buah Indonesia mengalami gangguan perdagangan.
Sebagai respons, IPB University menawarkan pendekatan teknologi biointensif yang dinilai lebih efisien dan berkelanjutan.
Menurut Prof Suryo, metode ini mampu mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 30 persen, menekan penggunaan pestisida hingga 70 persen dan meningkatkan produktivitas tanpa menambah beban biaya, serta pendekatan biointensif mengedepankan pemanfaatan sumber daya lokal, termasuk mikroorganisme tanah, pupuk organik, serta sistem tanam seperti rotasi dan tumpang sari.
Sistem ini memiliki sejumlah kelebihan, antara lain, efisiensi penggunaan input pertanian, berbasis ekologi dan ramah lingkungan dan tahan terhadap stres iklim dan krisis energi serta memiliki jejak karbon rendah dan mengandalkan bahan baku lokal (TKDN tinggi).
Dalam praktiknya, teknologi ini mengintegrasikan kesehatan tanah, mikroba, dan tanaman untuk menghasilkan produktivitas yang stabil dan berkelanjutan.
Hasil uji coba di berbagai daerah seperti Karawang, Subang, Indramayu, Tegal, hingga Bojonegoro menunjukkan bahwa metode biointensif mampu meningkatkan produktivitas padi hingga 24 persen.
Selain itu, biaya produksi dapat ditekan sekitar 20 persen, menjadikan sistem ini lebih menguntungkan dibanding metode konvensional.
IPB University juga mendorong penguatan ekonomi berbasis komunitas melalui inovasi teknologi ramah lingkungan, pengembangan pasar lokal, serta pemanfaatan energi terbarukan seperti biogas, panel surya, dan biomassa.
Dengan berbagai keunggulan tersebut, teknologi biointensif dinilai menjadi langkah strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah tekanan krisis global yang terus berkembang. (opy)
