Iran Buka Jalur Bantuan Kemanusiaan Melalui Selat Hormuz di Tengah Serangan Nuklir Israel

Iran menyatakan akan memfasilitasi bantuan kemanusiaan melalui Selat Hormuz di tengah serangan Israel terhadap fasilitas nuklirnya.

Sabtu, 28 Maret 2026 - 10:39 WIB
Iran Buka Jalur Bantuan Kemanusiaan Melalui Selat Hormuz di Tengah Serangan Nuklir Israel
Kapal tanker minyak dan kapal kargo berjejer di Selat Hormuz seperti terlihat dari Khor Fakkan pada 11 Maret 2026. Foto: Euronews for Hallonews

HALLONEWS.ID – Pemerintah Iran menyatakan akan memfasilitasi dan mempercepat penyaluran bantuan kemanusiaan melalui Selat Hormuz, di tengah meningkatnya konflik militer di kawasan Timur Tengah.

Pengumuman tersebut disampaikan oleh Duta Besar Iran untuk PBB di Jenewa, Ali Bahreini, pada Jumat, setelah Teheran menerima permintaan dari PBB untuk memastikan bantuan kemanusiaan dan pengiriman hasil pertanian tetap dapat melewati jalur pelayaran strategis tersebut.

Menurut Bahreini, langkah ini menunjukkan komitmen Iran untuk memastikan bantuan kemanusiaan tetap dapat menjangkau negara-negara yang membutuhkan meskipun konflik masih berlangsung.

“Langkah ini mencerminkan komitmen berkelanjutan Iran untuk mendukung upaya kemanusiaan dan memastikan bantuan penting sampai kepada mereka yang membutuhkan tanpa penundaan,” kata Bahreini.

Terobosan di Tengah Konflik

Keputusan membuka jalur bantuan melalui Selat Hormuz dinilai sebagai terobosan penting setelah jalur tersebut terganggu selama hampir satu bulan akibat konflik militer.

Selama ini perhatian dunia lebih tertuju pada terganggunya pasokan minyak dan gas, namun pembatasan distribusi pupuk dan hasil pertanian juga berpotensi mengancam ketahanan pangan global.

PBB sebelumnya telah membentuk gugus tugas khusus untuk mengatasi dampak perang terhadap distribusi bantuan kemanusiaan dan logistik global.

Fasilitas Nuklir Iran Diserang Israel

Pengumuman Iran tersebut muncul hanya beberapa jam setelah media pemerintah Iran melaporkan dua fasilitas nuklir diserang oleh Israel.

Fasilitas yang menjadi sasaran serangan antara lain Kompleks Air Berat Shahid Khondab di Arak dan pabrik produksi yellowcake Ardakan di Provinsi Yazd.

Organisasi Energi Atom Iran menyatakan serangan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa dan tidak menyebabkan kebocoran radiasi. Namun, Israel mengklaim serangan itu merupakan pukulan besar terhadap program nuklir Iran.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan Iran akan membalas serangan tersebut dan menuntut harga mahal atas tindakan Israel.

Dunia Serukan Penahanan Diri

Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency kembali menyerukan semua pihak menahan diri untuk menghindari risiko kecelakaan nuklir akibat konflik militer di sekitar fasilitas nuklir.

Sementara itu, upaya diplomasi masih terus berlangsung. Sejumlah negara seperti Pakistan dan Turki berupaya memediasi pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran untuk menghentikan konflik.

Di sisi lain, militer Amerika Serikat dilaporkan mengirim ribuan marinir dan pasukan lintas udara ke kawasan Timur Tengah sebagai bagian dari peningkatan kesiapan militer.

Meski demikian, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan sebagian besar tujuan militer Amerika di Iran sudah berjalan lebih cepat dari jadwal dan masih dapat dicapai tanpa operasi darat besar-besaran.

Konflik di kawasan Timur Tengah hingga kini masih berlangsung tanpa tanda-tanda akan segera berakhir, sementara dampaknya mulai dirasakan pada ekonomi global, energi, dan ketahanan pangan dunia. (ren)